SABUN PROPOLIS TRANSPARAN

Sabun Propolis HPAI digunakan untuk perawatan kesehatan dan sebagai bahan kosmetik. Sabun Propolis HPAI dengan kandungan propolis, membersihkan kulit tubuh sekaligus melembabkan, sehingga kulit menjadi bersih, terasa lembut dan tampak lebih bercahaya setiap hari

Propolis adalah suatu zat yang dihasilkan lebah dari berbagai pucuk daun-daun muda yang dicampur dengan air liurnya. Propolis atau lem lebah digunakan untuk menambal dan mensterilkan sarang lebah. Propolis bersifat anti bakteri (disinfectant) yang membunuh semua bakteri, oleh lebah digunakan untuk melindungi sarang dari gangguan virus kuman dan bakteri.

Propolis bisa digunakan untuk meyembuhkan berbagai penyakit pada manusia. Di Australia propolis sudah digunakan secara meluas sebagai obat karena khasiatnya yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit.

Propolis mengandung lebih dari 300 unsur, diantaranya: flavanoids, chalcones, dehydrocalcones, asam alipatik dan ester lainnya, asam alipatik rantai panjang, minyak volatil rantai pendek, asam aromatik dan ester lainnya, asam benzoik dan turunannya, aldehida, senyawa alkohol, asam sinamat dan turunannya, ketine, phenol, sama amino, vitamin, mineral.

Pada 2011, penelitian tentang penggunaan propolis menunjukkan bahwa propolis dapat secara efektif menghilangkan propionibacterium, yang merupakan jenis bakteri yang menyebabkan jerawat. Banyak herbalis dan konsumen telah menemukan propolis menjadi perawatan jerawat yang efektif.

Sabun Propolis HPAI merupakan produk yang berbahan gabungan propolis dengan bahan pelembab, ekstrak alam dan minyak esensial serta bahan lainnya untuk meningkatkan efek manfaat produk.

Manfaat Propolis untuk perawatan kulit antara lain : Menghaluskan dan mengencangkan kulit, menjaga kelembaban kulit, mencerahkan dan memutihkan kulit, menghilangkan flek hitam pada wajah, mengatasi jerawat dan komedo, menghilangkan kerutan pada wajah, mengurangi kadar minyak berlebih pada kulit wajah, memberikan nutrisi vitamin E pada kulit, menjaga kekenyalan dan elastisistas kulit.

Wilayah 1 & 2 : Rp 20.000
Kode : 17/5

Wilayah 3 : Rp 25.000
Kode : 20/8

Wilayah 4 : Rp 27.000
Kode : 22/8

Isi : 100 gr

Bisnis Pulsa yang Sangat Menguntungkan Anda

Saya sering mendapat pertanyaan,  Apa sih Paytren itu?*                        

Paytren itu produk aplikasi smartphone dari PT Veritra Sentosa Internasional (Treni), dan ini salah satu bisnisnya *Ust Yusuf Mansur*              

———–          

 Aplikasi Paytren itu bisa di download di Playstore       

———————————-                 

 *Aplikasi Paytren itu buat apaan?*                        

  Paytren bisa buat transaksi pulsa, bayar tagihan /token listrik,  tagihan air,  cicilan (leasing),  BPJS,  tiket pesawat dan kereta api.                        

———————————-

*Maksudnya gimana tuh? Masih belum faham nih*

Kalau di counter2 ada orang cuman jualan pulsa, tapi pakai Paytren bisa buat transaksi pulsa, bayar tagihan /token listrik,  tagihan air,  cicilan2 (leasing),  BPJS,  tiket pesawat dan kereta api. 
Bisa dipakai buat sendiri atau dibisniskan untuk medapatkan penghasilan lebih.

Kalau di pakai sendiri,  yang jelas bikin kita *hemat biaya,  waktu dan tenaga* karena segala keperluan pembayaran sudah ada dalam 1 aplikasi. 
Jadi kalau mau di pakai sendiri aja udah menguntungkan….😁😁
*APA MANFAAT DARI PAYTREN ?*

.

√ Tidak perlu keluar rumah ( hemat biaya,waktu,dan tenaga ).

√ Dapat cashback setiap transaksi.

√ Ada nilai sedekah dari setiap transaksi

√ Dapat peluang mendapatkan komisi/bonus dan juga reward dari PAYTREN dengan cara menjalankan bisnisnya.

√ Bergabung dgn komunitas yg positif,agamis dan mendapat pengetahuan agama dari USTAD YUSUF MANSUR sebagai pemilik prusahaan.

———–                    

 Jika ada pertanyaan atau ingin DAFTAR silahkan japri ke mitra Paytren yang memasukkan anda ke grup ini!!    

————-                    

  *Selain Paytren bisa dipakai buat sendiri,  apa bisa dibuat jual lagi, misalnya jual pulsa?*

Iya bisa,  Anda bisa menjual pulsa dengan harga jual yang bebas Anda tentukan. Anda bisa menjual token listrik,  menerima pembayaran tagihan listrik, air,  dll dengan biaya administrasi yang bebas Anda tentukan.       

————–

 *Bagaimana dengan bukti pembayarannya/struk?*

               

Anda bisa mencetak struk dengan printer bluetooth (dijual terpisah) atau dari pc ke printer biasa dengan syarat koneksi internet.      

———–                  

*Berapa biaya daftar Paytren?*

Paket Kemitraan terendah yaitu Paket Basic dengan biaya registrasi 350ribu. Ada beberapa paket lainnya dengan potensi pendapatan lebih besar                        

 350ribu itu dapat apa aja?
*Paket Basic Rp. 350ribu*. 

Dengan paket basic akan mendapatkan: 

1⃣ 1 Lisensi
2⃣ Dapet cashback deposit langsung senilai Rp15ribu 
3⃣ Mendapatkan produk promo perdana (pilih salah satu/tergantung persediaan): 

a). 1 botol habspro 

b). 2 treni power 

c). 1 buku trilogi 
4⃣Maksimal transaksi perbulan 20juta dan maksimal deposit yang mengendap 5juta 
5⃣ Potensi komisi leadership/pasangan 300ribu/hari 
6⃣Potensi mendapatkan reward hanya 1 kali.

Senyuman 99 Rembulan

***

Sedikit tergesa kulangkahkan kaki menuju aula kampus. Panas matahari sudah mencapai titik nya di atas kepalaku. Denyutan kecil terasa mengganggu sejak masih berada dalam kelas tadi. Kemudian aku mendengar seseorang memanggil. Aku tolehkan wajah ke arah datangnya suara.

“Karin, kamu kelihatan pucat, sedang sakit?” Tanya Sunny kepadaku.

Aku menggeleng pelan seraya tersenyum. 

“Aku cuma sedikit pusing Sun, karena sarapan tadi ditinggal.” Jawabku sambil memijat kepala.

Sunny menghela napas sedikit. Lalu kemudian mengambil sesuatu dari dalam tas ranselnya.

“Aku ada obat sakit kepala, minum nih”

Aku menerimanya. 

“Terima kasih” Ujarku pelan.

“Kamu bawa bekal ga?” Tanyanya lagi

“Mmm..” Aku menggeleng.

“Ayo kita ambil air wudhu terus solat, mudah-mudahan bisa segerin kepala kita.”

“Habis itu kita ke kantin untuk mengisi perut kamu yang tipis itu.” Kata Sunny seraya mengejekku.

Aku tak menggubrisnya dan dia senyum menarik tanganku ke luar Aula.

Kami langsung pergi ke kantin kampus setelah selesai solat dan akhirnya bertemu banyak teman kami yang sedang mengantri membeli makan siang.

Dari kejauhan kulihat Asri, Jihan, dan Marisa berada dalam satu meja. 

“The Rumpiers pada makan rupanya.” Kata sunny menunjuk ke arah mereka.

Kami berdua menyusuri kantin yang di penuhi meja dan bangku panjang yang sudah penuh oleh mahasiswa Fakultas Pendidikan Matematika

“Hey Rin, kamu keliatan capek banget?” Tanya Marisa setelah aku duduk di hadapannya.

“Aku mau makan banyak pokoknya”. Sergapku.

“Tumben ni anak, ya udah pesan sana”. Kata Marisa menyahuti

“Oh dia tuh karena laper Mar, hehehe.” Ujar Jihan menimpali

Aku memanyunkan bibir. Si Sunny ikut tertawa dan juga Asri yang sudah menyuapkan mie ayam ke dalam mulutnya.

Kemudian dari arah belakang ada seseorang yang menepuk pundakku.

“Hei Rin” Sapanya santai.

Aku menoleh dan terlihat jelas bahwa ada Rei sekarang di belakang.

Aku merasa kaget dan bingung menjawab sapaannya. Karena selama ini dia begitu dingin dan terkesan angkuh terhadap teman-teman cewenya termasuk aku. Tapi kemudian dia sekarang malah menyapa seolah kami adalah kawan akrab sejak lama. Aku memutar kepala dan menjawab sapaannya.

“Oh hai, Rei”. Sapaku kembali dengan senyum manis.

“Lagi pada makan apa nih?”. Ujar Rei mengamati makanan di atas meja kami.

“Hei, Rei. Ya nih kita mau makan, ayo sini gabung bareng kita”. Kata Jihan sumringah.

Aku terdiam mematung. Dan tak sadar kalau Reihan ternyata menanyakan padaku apakah boleh bila dia duduk disebelah karena sedang terlena dalam lamunan. Dipikirnya aku keberatan atas permintaannya maka akhirnya dia memilih duduk di samping Jihan. Marisa menyenggol tanganku.

“Sst..Rin, lo kenapa sih?”

“Ehh enggak. Gak apa-apa”. Jawabku sedikit tersenyum.

“Rei, lo mau makan apa? Biar gue pesenin?”. Kata Jihan menawari.

Reihan terdiam lalu kemudian bersuara.

“Ga usah, biar gua aja yang pesan sendiri”.

“Oh ok.”. Jawab Jihan. Kemudian Jihan pergi ke warung Bakso.

Asri batuk karena tersedak makanannya. Marisa buru buru memberikannya air seraya dia menyengir kuda.

“Kenapa sih lo Asri?” Tanya Marisa masih sambil tersenyum.

“Uhuk…uhuk” 

“Yang bener kalo makan” Kata Sunny sambil menepuk nepuk punggung Asri.

“Ehem…. makasih Sun”. Kata Asri.

“Lo mau pesan apa Rei?” Sekarang Marisa yang bertanya kepadanya. Raihan tersenyum  kepadanya. 

“Gua pengen makan roti panggang”. Setelah itu dia langsung pergi ke kedai sana.

Aneh kepada Marisa dia sangatlah ramah

“Heh, Rin, dari tadi bengong aja kenapa sih”. Asri menegurku. 

“Ga apa-apa”. Jawabku sekenanya. 

“Rei kenapa begitu sombong yah, dia hanya ingin bicara kepada yang dianggapnya penting saja” Ujar Asri sambil minum es teh.

Aku mengangkat bahu tanda tak tahu. Kupikir penilaiannya tidak meleset. Aku langsung bangkit berdiri dan berniat akan memesan makanan ke kedai favorit. 

Aku berjalan sambil menebak apa yang ada didalam hati Rei sekarang.. Dia tahu bahwa aku suka kepadanya. Tiba tiba  ucapan Asri mengiang lagi di pikiranku.

Rei begitu sombong yah, dia hanya ingin bicara kepada yang dianggapnya penting saja” 

Kemudian aku masuk ke dalam kedai bakso, dan dia memasuki kedai roti bakar. Heh…aku sangat ingin bisa bersama bareng dia, dalam hal apapun. Di dalam kedai sudah ada Jihan tengah memesan makanannya.

“Lo mau bakso juga, bukan tadi sekalian bilang sama gue?” Sahut Jihan begitu melihatku.

“Iya Han, gue baru mau bakso, tadi belum tau mau apa.”

“Oh, ada apa sih sama lo Rin?”

Lalu kemudian terlihat Rei berjalan melintasi tempat kami berada.

“Wuish… si Rei pesonanya gak luntur-luntur yah Rin.”

“Hmm… Gumamku

“Ckck.. apa sih lo Jihan…” Ujarku tersipu malu.

“Hahaha…. ketahuan lu masih suka ama dia kan? Ngaku….” Ujarnya meledek.

“Heeh, kenapa lo tadi di tegor si Rei malah diam aja.” Tanyanya penasaran.

“Ah.. eng.. enggak, gak kenapa-kenapa. Gue ga nyadar tadi.” Jawabku sekenanya. Padahal aku hanya terkaget dengan sikapnya yang tiba tiba ramah.

“Halah… Rinrin… kapan sih lo nyadarnya wkwkwkwk….. hahahahhaha.” Ujar Jihan sambil meninggalkanku.

“Sialan lo!!” Aku menggerutu kemudian tersenyum sedikit. 

Memang benar yang dibilang Jihan, belakangan ini aku memang sering termenung karena beberapa urusan telah menyerap energiku hingga kelelahan pun melanda yang membuat konsentrasi pun ikut menurun.

KEESOKANNYA DI RUMAH.

Ping!

Sebuah BBM mengagetkanku di dalam sebuah kamar yang dingin.

“Rin, bisa kita bicara sebentar ga sekarang?” Tanya Rei kemudian lewat Bbmnya.

“Ada apa Rei?” Tanyaku kaget dan penasaran

“Enggak, enggak ada apa-apa. Gue Cuma mau ngomong sesuatu, gak enak kalau lewat HP”.

“Mm..” Aku berpikir sejenak.

“Ok, tapi tunggu satu jam lagi ya.”

“Ok, di Sevel depan sekolah aja”. Ujarnya memberi tahu. 

“Ok.” Sahutku.

“Yap”.

Aku berpikir di depan kaca rias. Jadi alasan Rei kemarin menyaku adalah pertemuan hari ini. Dia akan mengatakan sesuatu. Sangat tiba tiba dan mencurigakan. Ada apa sebenarnya. Ini bukan seperti Rei yang kukenal. Dia begitu angkuh dan dingin ketika mempertahankan egonya. Apakah ada sesuatu yang terjadi? Baiklah. Akan kucari tahu alasannya.

Sesampainya disana.

“Sini Rin-Rin, sebelah sini.” Ujar Rei memanggilku. 

Dia memanggil namaku dengan panggilan Rin-rin, nama kecilku. Rei adalah teman sekolahku dari SD begitu juga dengan Jihan. Dia begitu dingin ketika kami di kelas Dua Belas di SMA yang sama. Dan lalu kami pun kuliah di kampus dan jurusan yang sama. Sungguh bukan suatu kebetulan, pikirku.

Baru kali ini lagi dia menyapa. Meski awal masuk kuliah dia sudah mengobrol denganku, tapi menurutku itu tidak masuk hitungan. Dasar anak yang aneh!

Aku melambaikan tangan ke arahnya sambil tersenyum. Setelah mobil terparkir aku berjalan ke arahnya. Dan baru sadar bahwa ada seorang gadis duduk di sampingnya. 

Hah.. siapa cewek itu? Tanyaku dalam hati. Usianya sepertinya sebaya denganku, rambutnya berwarna pirang panjang tergerai kebelakang. Badannya kurus namun masih bisa terlihat lekukannya yang bagus.

“Hei, Rei.. Sudah lama nunggu?” Tanyaku begitu ditempatnya.

“Mm, ga terlalu lama Rin. Sekitar lima menitan kali ya, is it about 5 minutes we’re waiting for her?” Jawabnya sambil bertanya kepada gadis itu. Kemudian ia pun mengangguk. 

“Oh ya Rin, kenalin ini Vianka, Vianka this is Karin.” Rei berkata kepada gadis yang dipanggil Vianka itu dalam bahasa inggris

Suasana seketika menjadi kaku. Aku menunduk sambil menatap layar ponsel sebagai pelarian.

Apaan sih, katanya tadi dia mau ngomong, kenapa jadi diam begini..Kataku gusar dalam hati.

Kulihat Rei mengaduk-aduk gelasnya dengan sedotan. Tampak wajahnya menyiratkan sebuah kekhawatiran yang mendalam.

Sejenak kemudian aku berdehem memecah kekakuan ini.

“Ehem… uhuk..uhuk..” kataku pura-pura batuk.

“Rin..” kata Rei.

“Ya..?” Jawabku cepat.

Kulihat tangannya menggenggam tangan gadis itu.

Ih.. pemandangan apa ini

“Rin, aku minta kamu jangan salah paham.” Kata Rei seolah mendengar batinku barusan.

“Iya, ada perlu apa Rei?” Tanyaku sedikit to the point.

“Soalnya, gak biasanya kamu pengen ngomong sama aku, dan akhirnya kita janjian di begini. Kalau emang ada yang mau di bicarakan, ngomong aja. Tapi sorry waktu gue gak banyak Rei.” Kataku tiba-tiba dengan tegas. Aku sedikit emosi demi melihat tingkah Rei barusan.

“Vianka ini adalah anak kandung dari ayah angkatku sewaktu tinggal di New York. Keluarga yang menampungku disana waktu SMP. Ketika orang tuaku meninggal aku kembali ke Indonesia dan tinggal bersama pamanku disini.Ketika SMA aku balik ke Indonesia, dan kamu tau kan aku merupakan murid pindahan?”

“Dan sekarang ayah angkatku sudah meninggal sekitar sebulan yang lalu. Beliau meninggalkan utang-utang yang dibebankan kepada ahli warisnya, Vianka. Dia datang kemari dari New York dengan kejaran dari para debt collector disana.” Ujar Rei memberi penjelasan kepadaku. Aku kaget namun tak ditampakkan.

“Rumah mewahnya sekarang sudah di segel oleh pihak Bank.” Lanjutnya. Wajahnya sekarang sudah mendung. 

“Vianka bisa kesini dengan bantuan sahabatnya disana, dan pergi ke bandara pada penerbangan malam. Aku sangat khawatir dengan keadaannya yang seperti ini, Rin”

“Ke-kenapa kau menceritakannya padaku?” Tanyaku bingung.

“Kamu bisa bantu aku dengan koneksi pamanmu yang seorang diplomat itu, Rin?”

Aku terpekur mendengar penjelasan sekaligus pertanyaan Rei barusan. 

“A-apa yang bisa ku perbuat Rei?” Tanyaku dengan ekspresi bingung. Kulihat wajahnya sekarang kelabu. Airmata di kedua matanya berebut seperti ingin berhamburan keluar. Rambut di pelipisnya turun menutupi alis kirinya.

“Huft, aku punya deposito di Bank yang merupakan hadiah dari ayah angkatku disana. Rekening itu belum aku buka sama sekali. Namun di dalamnya aku memiliki sertifikat rumah di pantai Hawai. Hal itu baru aku ketahui ketika di kelas XI, ayahnya Vianka menelponku dan memberitahu perihal sertifikat rumah yang ia taruh di brankas Bank.”

“Apa kau masih ingat ketika itu aku beritahu kamu soal saudaraku yang di Amerika mengirimi buku-buku bacaan yang banyak itu. Ia bertanya kepadaku.”

“Yah… Jawabku sambil berusaha mengingat memori kami pada masa SMA, padahal aslinya aku sangat mengingat setiap kehadiranku bersamanya. Namun tentu saja Rei tidak tahu itu.

“Waktu itu beliau mengirimkan banyak buku-buku sekaligus kabar bahwa ia telah mewariskan kepadaku sebuah rumah pantai di Hawai. 

Sejenak aku mengingat memori itu. Ingatan dimana kami menghabiskan hari dengan membereskan buku-buku tersebut di kamar Rei.

Namun aku pun tercengang. Tidak mimpikan aku sekarang? Kenapa masalahnya menjadi rumit seperti ini? Kukira masalah percintaanku dengan Rei adalah satu-satunya masalah terberat di dunia ini. 

Oke, jujur aku tadi berbohong. Ketika SMA kami memang sempat dekat dan ehem, kau tahulah kami berpacaran dan akhirnya putus sebelum pelaksanaan UN dilaksanakan. Namun kami bertemu lagi di kampus dan fakultas yang sama kami berkuliah. 

Daan tentu saja, kami pura-pura tak mengenal satu sama lain. Karena aku hanya ingin menghargai keputusannya “memutuskan” hubungan asmara kami.

Dan sekarang di hadapanku, Rei tertatih-tatih bercerita tentang masalahnya. 

“Bisakah kau menelpon Om Sonny melalui kedutaan disana untuk membantuku mengurusi deposito rumah kami, Rin?”

Aku menghela napas panjang. Kupandangi Vianka di depan. Matanya sudah sembab oleh air mata. Lalu gantian Rei yang tengah menatapku sejak tadi. Kutarik badan ke belakang.

“Sorry to hear that Vianka.” Kataku. Ia hanya tersenyum dan menghapus air matanya yang jatuh lagi barusan. 

“Rin, apa kau bisa bantu kami?” Tanya Rei disela-sela harunya. Ia mengelap matanya. 

Oh Rei, andai saja kamu tahu bahwa aku masih memiliki perasaan terhadapmu

Tak biasa aku melihat dirinya menangis seperti ini. Aku semakin kalut dan mencoba untuk menahan airmata agar tidak jatuh.

“Aku akan mencoba berbicara pada ayah dan Om Sonny tentang masalahmu, Rei” Aku mengangguk.

“Thank you, Karin.” Ujarnya kepadaku. 

Rei mencoba menggenggam tanganku. Aku sontak menariknya. Dan kemudian kulihat mendung gelap lagi ada di matanya. Ah Rei, andai saja kau tak pergi dariku dulu.

“Sorry, aku hanya belum terbiasa, lagi.”  Ujarku pelan dengan wajah memerah.

“Ya Rin, tidak apa-apa.” Ujarnya menunduk.

“Yang pertama akan kulakukan adalah memberi tahu ayah soal masalahmu.” Kataku memecah suasana. Tiba-tiba dia memotong pembicaraanku.

“Sorry Rin, saat ini Vianka tidak mungkin tinggal bersamaku di rumah. Ada Billy dan sepupuku yang lain. Disana lelaki semua, kau tahu kan itu tidak pantas bagi Vianka, apalagi kita di Indonesia. Orang-orang akan merasa terganggu. Aku  tidak ingin menambah masalah lagi. Dan bisakah Vianka tinggal sementara bersamamu dulu  nanti Rin?” Ujarnya cepat.

Aku mengangguk memahami perkataannya. Ku gigit bibir bawah. Kenapa masalahnya serumit ini Rei…. kataku dalam hati. Kupandangi mereka dan merasa kasihan terhadap dua orang di depan ini.

Tiba-tiba ponselku bergetar. Mama rupanya menelpon.

“Ya Ma..” Kataku menjawab sapaan mama.

“Kamu dimana sayang?” 

“Aku lagi diluar sama temen SMAku Ma, sebentar lagi pulang.” Kataku.

“Ok, tapi jangan lama-lama ya, ada tante Rita lagi main ke rumah. Tahu gak sama siapa?” Tanya mama.

“Sama siapa Ma?” Tanyaku penasaran.

“Sama Aldo, tentu saja, Rin.” Kata mama terdengar bahagia.

Dengan cepat aku menutup ponsel agar suara mama tak terdengar oleh Rei. Aku menengok ke arahnya. Kulihat ekspresinya biasa saja. Aku tersenyum kepadanya. Sepertinya suara mama tidak terdengar.

“Dari siapa?” Tanya Rei.

“Eh, oh.. dari mamaku, Rei.. ” Jawabku sedikit gugup.

“Ehem, ok baiklah, jadi dari kemarin Vianka tidur di rumahmu kan?” Lanjutku.

“Dia menelfonku ketika sudah sampai Bandara, persis seperti sore ini kemarin, ia sampai disini dan meminta aku menjemputnya”

“Billy tahu kalau dia adik angkatmu?”

“Ya, dia tahu, namun tak tahu kejadian yang sebenarnya jika Vianka harus tinggal di Indonesia dalam waktu yang lama. Sampai urusan ini selesai. Paling tidak mengetahui jalan keluarnya seperti apa.”

“Ok besok pagi aku baru akan memberi tahu ayah dan berdiskusi soal pencerahannya, juga menelpon Om ku di Kedubes.”

Rei mengamatiku seksama. Ada gurat rasa senang yang ia tampakkan. Karena dari tadi hanya ada mendung. Aku bersyukur dapat membantu terutama dengan masalah pribadinya.

“Vianka, just be rilex for a moment, i will take my best to help you  through this storm, Ok?” Kataku kepada Vianka dan Reihan. Ia mengangguk dan menggenggam tanganku.

” I’m so thankful for your help, Karin, i didn’t know that my brother has a nice and beautiful friend like you.” Katanya dengan nada menekan dan terharu.

“It’s Okay, Vianka”

“Aku pulang dulu yah Rei. Kalau ada apa-apa akan ku telepon kamu.” Kataku.

Rei mengangguk dan melepas kepergianku dengan tersenyum  dan membuatku sejenak terbang ke angkasa. 

Hmmbenarkah yang barusan Rei lakukan kepadaku? Aku berbunga-bunga.

Oke RinRin, sejenak kamu lupakan perasaanmu terhadap Rei, dia sedang membutuhkan bantuanmu sekarang. Kataku di dalam mobil.

Sesampainya di rumah, Mama langsung memerkenalkan Aldo yang tadi dibilang. Ups.. wajahnya seperti aku kenal.

“Halo Karin, apa kabar sayang?” Tanya Mama Aldo sembari mengecup pipi kanan dan kiri. Sekarang Aldo menjulurkan tangannya ke arahku. 

“Hei, Karin, Salam kenal.” Sapanya. Aku tersenyum. Yah.. dia adalah kakak kelasku di fakultas matematika. Dan dia adalah ketua BEM fakultas kami. Pantas saja wajahnya seperti tak asing bagiku.

Setelah itu kami berbincang diiringi tawa Mamaku yang riang di ruang tamu depan. Sejenak kulupakan masalah Rei dan larut dengan obrolan mereka. Begitu makan malam tiba Papa sampai di rumah dan akhirnya Aldo dan mamanya ikut makan malam bersama kami. Ketika waktu menunjukkan pukul delapan malam, mereka pamit pulang dan Aldo sudah memberikan pin BBMnya kepadaku.

Aku masuk ke dalam kamar tidur dan merebahkan badan ke atas kasur. Bayangan Rei berada bersama adiknya membayangi kepalaku dengan masalah yang tengah mereka hadapi. Kucoba menetralkan pikiran  cemburu ini. Hmm… bagaimanapun mereka bukan saudara kandung, tapi demi Rei aku akan membantu sebisanya. 

Ku tatapi layar ponsel di akun WA Reihan. Nomor ponsel dan BBMnya belum berubah sejak dari SMA. Foto profilnya memperlihatkan ketika dia berada di atas gunung mahameru bersama rombongan Mapala kampus. Ia mengenakan tutup kepala yang diikat ke belakang, dan bendera merah putih berkibaran di tangannya yang tiangnya ia genggam. Nampak sederet giginya rapi berbaris dan  memperlihatkan senyumnya yang menawan. 

Namun tiba-tiba layar ponselku muncul gambar foto Reihan tengah menelponku. Aku sedikit terperanjat dan langsung menjawab teleponnya.

“Halo…”  Sapaku.

“Rin..” Katanya

“Ya Rei..” Sahutku.

“Oh iya aku belum sempat mengobrol dengan ayah” Kataku menjelaskan.

“Ga apa-apa Rin, aku hanya ingin menceritakan sesuatu lagi.” Ujarnya. Kudengar suaranya sedikit berat.Apakah dia kelelahan dengan masalah adiknya itu. 

“Maaf Rin selama ini aku menghindar darimu”

“Hmm..” aku mengangguk.

“Kenapa Rei?” Aku bertanya penasaran.

“Aku tidak ingin menganggu kehidupanmu, itu saja.” Jawabnya jelas.

“Maksudmu? Tapi bagaimana dengan aku? Kau tidak peduli dengan perasaanku, Rei?” Aku menekan suara sepelan mungkin agar tak terdengar keluar kamar.

Terdengar napas yang berat dari suaranya. Apakah dia menderita sama denganku?

“Kupikir kau hanya pantas dengan Tian”

Tenggorokanku tercekat. Sejenak tak bisa berkata apa apa. Batinku rasanya ingin berteriak dan menangis sejadi-jadinya. Jadi selama ini dia berpikir bahwa hidupku lebih baik tanpanya. Dan si Tian itu, yang dia pikir pantas bagiku?!

“Kupikir kau sungguh keterlaluan, Rei.” Ujarku lalu menutup telepon.

Kupandangi langit kamar dengan sedih. Aku sempat kehilangan pegangan hidup akibat meninggal ibu kandungku.Dan Rei telah mengganti hari hariku dengan indahnya. Namun tiba tiba ia berubah menjadi  dingin serta menjaga jarak. Aku tak tahu apa penyebab utamanya. Meski alasan dia waktu itu adalah ingin lebih berkonsentrasi kepada UN.

Aku sempat berontak dan mencoba meminta maaf bila kesalahan padanya sangat banyak. Namun dia begitu dingin. Aku tak bisa berbuat banyak. Akhirnya kami berpisah secara pelan pelan. 

Tapi takdir masih pertemukan kami lagi di kampus yang sama. Bulan demi bulan kami lalui tanpa kata. Hingga akhirnya ia yang memutuskan kembali lagi padaku sekarang. Air mata tak terasa keluar membasahi pipi. Terdengar getaran dari ponsel. Tak dihiraukan apa pun olehku dan kegelapan perlahan menyelimuti kantuk.

Keesokan harinya.

“Yah.. aku ingin meminta saran dari ayah”. Kataku di sela sarapan pagi kami.

Ayah melap mulutnya dengan serbet.

“Soal apa nak?” Tanya ayahku.

“Aku memiliki teman, Rei namanya. Dia memiliki ayah angkat berkewarganegaraan US. Ia diberitahu bahwa ayahnya memberikan warisan berupa rumah di Hawai sana. Tapi sebulan yang lalu ayahnya baru saja meninggal dunia Yah.” Kataku menjelaskan. Ayah menyimak.

“Lalu?”

“Rei ingin mengambil sertifikat rumah tersebut, namun tidak tahu apa yang harus dilakukan. Sebenarnya ayah angkatnya Rei itu tengah dililit utang oleh Bank. Rumah yang ditempatinya dulu telah di segel. Dan sepertinya masih ada urusan lain yang belum selesai, hingga anak kandungnya, Vianka namanya, harus pergi meninggalkan Amerika dan mendatangi Rei disini.”

“Oh begitu ya? Kasihan sekali, Rin?”

“Aku tidak tahu jumlah utangnya berapa? Dan apakah sudah terlunasi atau belum dengan disegelnya rumahnya, tapi Rei bilang ingin menjual rumah di Hawai tersebut. Dan Kupikir akan meminta bantuan Om Sony di KBRI US, Ayah?”

Ayah terdiam. Lalu menyeruput kopi paginya. Kemudian mama masuk dari ruang tamu. Beliau baru pulang dari dinas malam di rumah sakitnya tadi subuh.

“Tidur nyenyak sayang?” Tanya mama sambil mengecup kepalaku. Ia sudah berganti pakaian dan siap menyantap sarapannya.

“Hai Ma..” Ujarku tersenyum.

“Ada apa ini? Kalian sedang diskusi rupanya?” Tanya mama duduk disamping ayah sambil mengambil selembar roti gandumnya.

“Iya Ma, soal temanku.” Tiba tiba ponselku berbunyi. Kuangkat dan langsung berdiri bergegas meninggalkan mereka di ruang makan.

“Loh, mau kemana Karin?” Tanya mamaku dengan bingung.

“Susunya belum diminum nih” Ujar ayah menyodorkan gelasku ke atas.

“Eh iya Yah. Terima kasih” Kataku balik lagi ke meja makan. 

“Yah, maaf aku ada janji sama Jihan ke kampus, aku akan meminta saran ayah ya nanti. Ma maaf aku berangkat ya… Daah mama.. ayah..Assalamualaikum…”

“Walalaikum salam” Jawab mereka kompak.

Begitu sampai di teras rumah, pesan baru muncul. Ternyata dari Rei. Hatiku begitu bergetar.

“Rin.. aku ingin bicara denganmu ya.. tunggu aku di kantin” Tulisnya.

“Baiklah” Jawabku sekenanya.

tiin…tiin.. klakson motor datang dari arah motor matic lengkap dengan pengendaranya yang berwajah imut. Tampak helm kecilnya menutupi hampir setengah wajah bagian 

 Lantas menghampirinya dan bersiap dibonceng dibelakang.

“Jihan, tebak siapa yang temuin gue kemarin di  Sevel?” Ujarku begitu kami baru melaju. Tak sabar rasanya untuk bercerita kepada Jihan soal kemarin.

“Siapa?”

“Reeeiiiiiihaaaaan” Jawabku sambil teriak di kupingnya.

“Haaah…. sumpaaaahh?” Tanyanya kaget sambil tertawa.

“Iiyaaa…” Jawabku senang masih sambil teriak.

“Ahahaaahha…” Jihan tertawa senang.

“Kok bissaaa?” Tanyanya lagi.

“Ada deeeh hahahahah” Jawabku sekenanya.

“Huuuu..” katanya.

Aku terkekeh kekeh.

Sesampainya di kampus.

“Riin….” Sebuah suara dikenal memanggil. Terlihat Sunny dan Marisa berdiri di depan kelas menggendong tasnya.

“Heei..” Jawabku

“Gue ke kantin dulu ya Han.”

“Oh, ok. Gue nitip air minum dong yah.” Ujar Jihan.

“Siip” Kataku.

Saat di dalam kantin aku sudah melihat Rei duduk di bangku membelakangiku. Aku sentuh pundaknya. Ia menoleh dan terlihat senyum seperti biasa mengembang di bibirnya.

“Sudah dari tadi?” Tanyaku basa basi.

“Baru lima menit kok” Ujarnya.

Kantin masih kosong. Hari ini aku mendapat jadwal pagi pelajaran Statistik.

“Rin, aku ingin melanjutkan obrolan tadi malam.”

Aku menyeruput air putih hangat yang dipesan setelah sesampainya di kantin. 

“Iya Rei, sebenarnya aku tidak apa apa. Itu pun sudah menjadi masa lalu. Aku tak begitu merisaukannya.”

Rei mengamati wajahku. Aku tersenyum.

“Ada apa?” Tanyaku sedikit tersipu. 

Rei menggeleng.

“Aku hanya bingung kepada siapa lagi aku menceritakan masalah ini.Karena rasanya pedih dan juga rapuh mengingat aku tak punya siapa siapa di dunia ini kecuali kau” Jawabnya dengan nada lemas.

Reihan yang selama ini kukenal tangguh dan tegas, tiba-tiba menunduk lemah tak berdaya. Apakah ini yang disebut lelaki di titik nolnya? Aku mencoba bersabar mendengar penjelasan darinya.

“Tidak apa-apa Rei. Kita hanya manusia yang menjalankan rencana Allah, ketika kita masih hidup maka masalah itu tak pernah berhenti berdatangan. Tinggal bagaimana kita gigih dan berusaha tegar atas masalah yang dihadapi. Selama ada sahabat di samping kita, maka kamu jangan pernah merasa sendiri atasi semuanya. Ok Rei?” Kataku menenangkan dirinya.

Terdengar ia menghela napas berat. 

“Karin, aku tahu bisa memercayaimu. Maafkan aku yang dulu pernah menyakiti perasaan kita.”

Apa maksudnya menyakiti kita? Apa dia juga tersiksa? Gumamku dalam hati.

“Ah.. sudah Rei.. ga usah bahas itu, sudah berlalu lama, aku juga ga pernah inget kok.” Kataku kepada Rei.

“Oh iya, Vianka dimana?” Tanyaku mengalihkan pembicaraan.

“Dia sedang di rumah. Tadi aku mengobrol sebentar dengan Bu Ratih istri ketua RT. Aku meminta bantuannya untuk bisa dititipkan Vianka di rumahnya sementara aku kuliah. Kebetulan Bu Ratih lulusan luar negeri. Jadi mereka akan nyambung kalau mengobrol. Ia dengan Billy sudah berkenalan, sementara Krisna belum karena masih di puncak karena ada acara paskibra sekolahnya.” Jawabnya.

“Tadi pagi aku sudah berbicara dengan ayah. Beliau akan membantu sebisanya kok Rei. Kau tahu ayahku kan? Insyaa Allah.” Kataku yakin.

Ia tersenyum. Nampak gurat kesedihan sudah memudar. Yang ada hanya wajah bangga yang ia perlihatkan dengan pamerkan baris giginya.

Dari Rei lah aku banyak belajar agama. Termasuk pandangan dan pola pikir saat harus menyertakan Tuhan dalam kehidupan kita. Seperti ucapan InsyaAllah barusan adalah ia yang mengajarkan kepadaku. Ketika kita sedang berjanji maka senantiasa harus disertai kalimat itu. Karena sebagai manusia kita tak pernah bisa mengatur segala kejadian yang akan datang nanti.

“Aku harus ke kelas yah. Jam 8 dosen akan masuk.” 

“Baiklah” Jawabnya sambil tersenyum dan berdiri menungguku pergi. Aku ingat akan membelikan sebotol air minum untuk Jihan. Kemudian aku langsung memesan dan bergegas menuju kelas.

“Daah..” Ujarku meninggalkannya di kantin.

Malam harinya.

“Karin, aku ingin mengajakmu keluar sekarang yah”

“Ok, Rei. Kamu ada dimana sekarang?” Tanyaku penasaran.

“Aku? lagi diluar, di warung Bang Mamat. Lagi ngobrol sama Pak RT soal kegiatan naik gunung anak karang taruna. Aku mau rileks sebentar.” Ujarnya. 

Memang terdengar beberapa suara lelaki mengobrol di belakang Rei. Namun aku tak mengenalinya. Yang jelas bukan suara Billy dan Krisna sepupu Rei.

“Aku jemput di rumah” Katanya mengakhiri pembicaraan.

Setengah jam kemudian.

“Mah..Yah.. aku mau keluar sebentar dulu, mau pergi makan bareng temen.” Ujarku kepada orangtuaku yang tengah duduk di ruang tengah.

“Eeit…. mau pergi sama siapa kamu Rin?” Tanya Mama mencegahku.

“Sama Rei Mah.. mama kenal dia kan? Jawabku sedikit merengut.

“Rei? Rei mana?”

“Ih, mama kok udah lupa sih. Rei teman SMA ku itu. Yang suka naik gunung itu loh mah.” Ujarku 

Ayah mendongakkan kepalanya dari ponsel yang tengah digunakan

“Mana Rei nya Rin? Suruh masuk dong.” Kata Ayah.

“Ya akan aku suruh masuk.” Sahutku.

Ketik aku membuka pintu, terlihat Rei sudah berdiri dengan memakai jaket denimnya yang berwarna biru muda.

“Eh, kamu udah datang? Ayo masuk.”

Rei melangkahkan kakinya ke dalam rumahku. 

Ia berjalan dengan pelan dan sedikit membungkuk.

“Ga usah gitu sih, biasa aja.” Kataku yang melihatnya merubah sikapnya menjadi lebih segan.

“Syuut, jangan memaksa yang sudah baik menjadi tidak baik, Rin”. Kata dia dengan nada suara rendah.

Aku tertawa mendengar alasan yang keluar dari mulutnya. Begitu kami masuk ke ruang tengah, ia langsung mencium tangan kedua orang tuaku. 

Haduh..Rin, Reimu itu ternyata gentleman banget.” Ujarku dalam hati. Aku senyum-senyum sendiri.

“Rin, kenapa kamu senyum-senyum begitu?” Tegur mama.

Hmm..mama.. ” sungutku dalam hati.

“Hei, Rei.. saya Nita mamanya Karin. Eh kamu sepertinya pernah kesini ya?” Kata mama begitu mengenali Rei. 

“Oh ya, kamu sebelumnya pernah kesini?” Sekarang giliran ayahku yang kepo.

“Iya Yah, Rei ini teman sejak SMA, dulu sering belajar bareng kerja kelompok disini.” Jelasku.

“Bukannya pacar kamu Rin?” Sahut Mama sambil mengamati Rei dari atas ke bawah.

Aku memegangi lengan mama. Maksudnya agar jangan berkomentar apa apa. Seketika ayah kulihat mengernyitkan alis.

“Eh bu-bukan Ma, dia bukan pacar aku, dulu kita Cuma temenan. Ya kan Rei?” Ujarku sambil melotot ke arah Rei. 

“Dulu kita pernah dekat tante, namun memang sebentar. Dia yang putusin aku.” Sahut Rei bohong.

What??

“Oh… hehehe, eh nggak.. enggak kok”. Ujarku membela diri setelah tatapan dari kedua orang tuaku seperti pedang mengoyak baju. Sriiiing…aduuh. Jeritku karena hatiku terkoyak oleh tatapan mereka.

“Ish… apa sih Rei?”

Bisa banget ni orang balikkin fakta. Hadeuh.. dari pada gue juga malu kalo faktanya dia yang ninggalin gue… 

Halaaahmaaakanakmu ini loh yang di tinggalin..

“Ya udah deh Yah, kita pergi dulu.” Kataku pamit. Kemudian mama mencubit pipiku.

“Aduh, Mama….” jeritku pelan.

“Kamu cantik banget ya gak pamit sama Mama.”

“Eh iya iya Ma, maap.” Kataku sambil mencium tangannya yang halus.

“Kami pergi dulu om, tante.”

“Mau kemana Rei?”

“Mau ke Darkit di depan Yah.” Jawabku menyela.

“Oh ya oke, pulangnya jangan lewat jam 9 ya.k Kata Papa.

Hah? Sekarang giliran aku memandangi mereka dengan tatapan Please deh Yah, ini kan malam minggu

Hehehe.

Rei membawa motor sportnya. Aku diberikan helm olehnya.

Hemmbakalan terkagetkaget nih genks rumpies kalo tau si Rei jalan ama gue, xixixixi… Kataku cekikikan pelan.

“Kenapa Rin?” Tanya Rei melihat tingkahku.

“Eh, enggak apa-apa Rei…” Kataku sambil naik ke belakang motornya dan merapatkan helm di kepalaku.

“Ayo jalan Rei…” Kataku dengan antusias.

Seketika motornya membawa kami ke tempat tujuan. Aku langsung merapatkan pegangan ke pinggangnya karena sedikit kaget oleh tarikan gasnya yang tiba-tiba.

“Woow…” Teriakku dengan kaget sekaligus gembira.

Kami menerobos angin malam yang cukup kencang dan memainkan rambutku. Sudah hampir empat tahun yang lalu kami pernah melalui in. Dan kini hal serupa itu terulang kembali. Untuk sejenak kupikir Rei melupakan masalahnya dan ikut membawa dirinya ke dalam relung kebersamaan kami saat ini. 

“Rei, apa kamu ga masalah kalau kita jalan bareng gini?” Tanyaku begitu sampai di kedai dekat rumah. 

“Masalah bagaimana Rin?” Tanyanya bingung.

“Kita pesan makanan dulu yuuk.” Katanya seolah ingin menenangkan perasaanku. Justru aku makin rancu dibuatnya.

“Kamu mau apa Rin?”

“Aku jus jeruk aja ya.”

“Bener? Kok kamu ga makan?”

“Aku ga tau kenapa tiba-tiba merasa kenyang ya Rei? ”

“Loh? Memang bisa begitu ya?” Katanya sembari matanya mengamati menu di depannya.

“Hemm… mungkin bisa.” Jawabku sekenanya. 

“Kamu ga marah sama aku kan sekarang?” Tanyanya sambil mengaduk jus di depannya.

Aku memutar bola mata. Apa karena terlalu sayangnya aku sama kamu Rei? Gumamku dalam hati.

“Sebenarnya aku benci sama kamu. Kenapa dulu kau mutusin aku, dan sekarang malah aku terima kamu apa adanya lagi.”

Dia terdiam. Wajahnya berubah muram.

“Kamu ga salah Rin. Aku yang bodoh. Kupikir sebenarnya kamu lebih pantas jika bersama Tian. Kalian berada pada derajat yang sama. Berasal dari keluarga aristokrat, sedangkan aku, kamu bisa lihat, hanya seorang anak yang berasal dari keluarga kelas bawah.

Reihan mengungkit masa lalu kami yang cukup rumit. Saat itu memang ada Christian berada di antara kami, sikapnya yang perhatian kepadaku cukup membuat Rei merasa panas. Walau begitu aku tak lantas menerima kehadiran Tian di hatiku, karena Rei sudah lama bertahta dalam relung jiwa ini. 

Tian memang kenal dekat dengan abangku, karena mereka sejak lama berteman, dan aku pun hanya menganggap seperti abangku juga tidak lebih. Rei mengisi hari-hari sedihku ketika ibuku meninggal dunia, sewaktu awal SMA aku sempat merasa drop akibat ditinggal pergi ibu dengan cepat, dan Rei menganggapku seperti adiknya sendiri. Ia mencurahkan kasih sayangnya tanpa paksaan, dan hal itu yang kemudian membuatku nyaman bersamanya. 

Hingga ketika kami naik kelas XI Tian masuk ke sekolah kami sebagai abang kelas, sekelas dengan abangku Reza. Dan rasa-rasa curiga itu muncul begitu Tian sering menginap di rumah. Sebenarnya abangku lebih memilih Rei sebagai sahabat dekatku, namun tidak ada yang bisa memaksa Tian untuk tidak memberi perhatian yang lebih. Di tambah lagi kehilangan ibu pada saat itu membuat kami menerima siapa saja yang ingin berbelas kasih kepada kami, dan termasuk Tian dan keluarganya.

Selang setahun, ayahku menikahi seorang dokter wanita yang sebaya dengannya. Ia amat baik hati dan merupakan sahabat ibuku  namun tak pernah berjumpa hingga ibu dirawat di rumah sakit tempat ia bertugas. Aku tak tahu apa apa waktu itu. Mamaku yang sekarang juga merupakan seorang kenalan keluarga Tian. Melalui merekalah ayah diketemukan oleh teman lama ibuku itu di pertunangan. Dan akhirnya membuat kami menjadi lebih sedikit normal dengan kehadirannya di keluarga kami. Dengan adanya mama dan Rei disisiku saat itu membuat segalanya menjadi lebih baik. Saat Rei belum mengakhiri hubungan kami.

Rei mengetuk meja dengan jarinya.

“Karena bisa jadi aku cinta mati sama kamu, Rei”. Kataku memelototinya.

Ia mendengus.

“Apa Rin? Kenapa kamu selemah itu sih?” Ujarnya menyudahi suapan makan malamnya.

Jika anginmu saja bisa

Memindahkan duniaku

Maka cintamu pasti bisa

Mengubah jalan hidupku

Cukup sekali saja aku pernah merasa

Betapa menyiksa kehilanganmu

Kau tak terganti kau yang slalu kunanti

Takkan kulepas lagi

Tiba tiba lagu Kali kedua dari Raisa melantun merdu di pengeras audio restoran. Kami menikmatinya. Seolah olah ini bagian dari cerita roman picisan hidup kami. 

“Bukan begitu Rei. Apa alasanmu berbicara seperti itu barusan? Apa kau tidak tahu betapa berharganya kau bagiku?” Ujarku dengan suara tertahan. 

Rei kemudian hening. Pada menit berikutnya dia sudah menarik tanganku keluar dari restoran dan membawaku ke atas motornya dan melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.

Aku diam saja dan pasrah mengikuti kemana dia membawa. Di depan sebuah rumah bercat hijau yaitu rumahku, dia menghentikan motornya dan menurunkan standar kakinya. Dia membuka helmnya dan turun kemudian menatapku. 

“Rin…” Ujarnya.

Aku menahan napas. Kalimat apa lagi yang akan ia lontarkan untuk menghindariku. Huft, aku mendengus kesal.

Kemudian dia membukakan helmku. Aku menatapnya dan melihat raut wajahnya tersenyum manis.

“Apa?” Tanyaku begitu helm terlepas. Kemudian membelaikan tangannya ke atas kepala. Rambutku dirapikannya. Aku masih diam sambil memerhatikan tindakannya. Aku terhenyak dan terasa darah mengalir di belakang batang otakku. Hembusan angin lagi-lagi memainkan rambutnya dan juga hatiku. Rasanya aku ingin berteriak dan memeluknya. Kemudian dia membelai pipiku.

“Rin… maafin aku…”

“Maafkan atas sikap acuhku selama ini. Ku pikir kau tak memedulikannya lagi. Namamu selalu mengiang di kalbu ini.” Kemudian dia menaruh tanganku di atas dadanya. Dapat kurasakan debaran jantungnya yang cepat. Aku menelan ludah. Sepertinya aku akan terbang. Tak kusangka Rei malam ini begitu lembut sikapnya. 

Kemudian dia menitikkan air mata. 

“Tak kusangka akan begini jadinya, Rin.”

“Kenapa?” Tanyaku dengan iba.

“Aku membuangmu seolah kita bukan apa-apa lagi, dan disaat aku terhempas pada masalah, kau menolongku kembali menarikku ke permukaan. Begitu egoisnya diriku, Rin.”

Aku menggeleng.

“Itu karena niat kita begitu tulus, sehingga takdir menentukan kita bersama lagi, Rei.” Aku menekankan kalimatku agar ia menyadari betapa hubungan ini bisa diselamatkan. 

Ia mencium keningku dan mengusapkan jemarinya ke atas rambutku lagi.

“Sekarang kamu masuk ke rumah, ini sudah jam 9 lewat. Jangan sampai kamu di marahin.” Ujarnya begitu lembut.

Aku mengangguk dan mengusap air mata yang jatuh. Kurasakan  begitu bahagianya diri inj hingga tak bisa mengeluarkan kalimat lagi.

Tengah malam aku berbalik badan ke kanan dan ke kiri. Tidak bisa tidur setelah apa yang Rei katakan dua jam yang lalu. Selimut ku tarik ke atas kepala. Dan bayangan Rei tersenyum padaku semakin membuat kepala ini dipenuhi bermacam pikiran.

Aku nyalakan layar ponsel. Foto-foto kebersamaanku dengan Rei masih ada. Kupandangi satu-satu wajah senang kami. Ketika itu masih duduk di bangku SMA. Merayakan kelulusan sekolah dengan mencoret-coret baju dan konvoi bersama yang lain di sekitaran pemukiman warga yang berada di samping gedung sekolah. Waktu itu kami sudah putus dan ia menjauhiku. Aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan. Miris sekali, disaat kami tengah bergembira, ia tak bisa membagi rasa itu kepadaku. 

Tiba-tiba suara kamar pintu diketuk. 

“Rin… kamu sudah tidur belum? Ujar suara mama dari balik pintu kamar.

Aku menjawab dengan pelan. 

“Belum Mah.. masuk aja..” Kataku

Mama membuka pintu kamar dan sudah mengenakan kemeja biru muda dan celana hitam. Biasanya ada pasien di rumah sakityang harus segera ditangani bila malam begini.

“Ada apa Ma?” Tanyaku penasaran.

“Enggak apa-apa. Mama Cuma mau mengobrol sama kamu sebentar”

“Oh..” Jawabku sambil menyalakan lampu kamar.

“Rin, kamu tahu Aldo yang tadi?”.

“Hmm.. iya tahu, ada apa Ma?”

Mama lalu duduk di pinggir ranjang

“Kamu tau gak kalau dia itu sebenarnya  mau dijodohin” .

“Hah? Sama siapa Ma?” Kejarku penasaran.

“Sama kamu, siapa lagi ya?”

“Aahhh… aku ga percaya, Ayah kan tahu kalau aku ga mungkin mau menikah sekarang. Aku mau senang-senang dulu. Aku mau kerja di luar negeri, dan ingin membuat buku. Aku ingin jadi penulis skenario film dulu Ma.. ingin buat film…” Jawabku panjang lebar.

“Masa sih?” Tanya mama tiriku  tak percaya.

Aku memandanginya dengan tatapan please deh Mama..

“Oh iya deh, kalau begitu..” Kata Mama sambil memainkan  ujung bantal.

“Ya udah kamu tidur sekarang dengan nyenyak ya….” Kata Mama lagi.

“Sudah, begitu saja Ma?” Kataku

Mama bangkit berdiri dan kemudian memelukku.

“Mama mau dinas dulu yah. Ada pasien yang harus ditangani. Tapi mau dulu dipeluk ayahmu. Daaagh…” Mama keluar dengan nyengir sambil mematikan lampu kamar.

“Iiihhhh… Mama apaan sih….” Teriakku kegelian.

“Pornooo…” Kataku lagi begitu pintu kamarku ditutup

“Hihihi…” Aku ketawa kegelian.

Mamaku itu memang sangat pandai mendekati hati anak tirinya. Dengan sikapnya yang ramah dan supel tak membuat jarak yang berarti diantara kami.

Namun tiba-tiba pintu kamarku terbuka lagi. Dan kepala mama nongol.

“Rin, yang tadi datang itu si Rei teman kamu dulu kan? Bukannya katanya kalian udah putus yah?”

“Ya ampun Mam, Cuma mau bilang begitu aja, segitu pentingnya. ” wkwkwkwk.

“Iya Ma, tadi dia ajak aku jalan lagi, asik asik..” Ujarku memeluk bantal.

Mama meringis ironis.

“Asal kamu jangan di cuekin lagi aja ya Rin.” Sungutnya.

“Ok sip Ma. Nanti kalau ada waktu aku mau cerita ke Mama deh ya.”

Saat putus dengannya aku bercerita banyak kepada Mama karena berhari hari aku tidak mau makan, terpaksa aku membuka semua.

“Ok deh sayang…” Mama mengancungkan jempolnya.

“Sleep tight Honey.”

“Thank you Mommy..” Aku tersenyum.

Pintu kamarku di tutup.

Hemmm…. lalu mataku pun semakin terang tidak merasa mengantuk sama sekali. Aku iseng-iseng membuka layar chat WA di no kontak Reihan. Kulihat last seen-nya baru lima menit yang lalu.

Waaaahhh… Seruku dalam hati. Lalu aku tergesa merangkai kata di kotak chatnya. Dan statusnya memperlihatkan dia online lagi. Langsung aku menyapanya.

“Hai Rei, sedang apa sekarang?”

Sapaanku belum dibacanya. Kutunggu satu, dua, hingga 15 detik tapi belum dibaca juga. Sebenarnya siapa yang sedang dia ajak obrol hingga aku tidak digubrisnya. Tapi kemudian dia membalas membaca chatku.

“Hei Rin.. aku sedang mencoba diskusi dengan pamannya Vianka yang di Los Angeles Rin.Beliau baru tahu kalau Kakaknya sedang terlilit utang dan Vianka ada di Indonesia. Dia dihubungi oleh pihak sekolah yang menanyakan kabar gadis itu yang tidak masuk ke sekolah. Lantas dia berpikir untuk menghubungiku. Baru tadi magrib dia menelponku, dan  memastikan kabar Vianka baik baik saja.” Ujar dia panjang lebar. 

Kalau begitu mengapa Vianka sampai datang ke sini? Batinku.

“Dia masih memiliki paman toh” Kataku. Hmm.. aku menghela napas lega sekaligus risau dengan masalah yang dialami Rei.

“Yah begitulah. Sejak kecil dia yang dekat denganku. Dia tak terpikirkan untuk datang ke LA kepada pamannya. Yang dia inginkan hanya bertemu denganku saja” Ujarnya.

“Oh begitu, sekarang dia sudah tertidur kah Rei?”

“Ya sudah Rin..”

“Jadi sekarang kau sudah memberi tahunya soal masalah ayahmu ya Rei?”

“Ya Rin.. tadi sih sudah sedikit dibahas soal pembayaran utang almarhum. Tapi aku juga belum bicara apa apa soal rumah di Hawai itu.”

“Oh gitu.” Kataku

“Kamu belum tidur?”

“Hemm.. iya nih. Mataku belum mengantuk sama sekali.”

“Jangan tidur terlalu larut dong! Ini sudah jam berapa?”

“Oh ok. Aku akan tidur. Sweet night baby..”

“Sleep tight darling, see you tomorrow”

“Bye” kataku menutup pembicaraan.

Tiba tiba rasa kantuk melandaku. Semenit kemudian aku terlelap dalam buaian mimpi indah.

“Rin, ayo cepatlah kesini. Kau akan lihat indahnya gunung Mahameru dari puncak sini.” Kata Rei. 

Ia berdiri di atas batu besar di pinggir jurang yang kedalamannya beberapa ribu meter. Aku masih berjalan tertatih sambil menarik napas karena tak kuat membawa beban tas besar serta licinnya jalanan menuju ke puncak.

Aku menghela napas pendek-pendek. Bibirku kering akibat cuaca dingin yang menusuk. 

“Apa kau baik-baik saja sayang” Tanyanya begitu melihatku yang terduduk lemas disampingnya

Aku mengangguk. 

“Sebaiknya kau minum lagi.” Ujarnya sambil menyodorkan botol minuman kepadaku. Aku tersenyum.

“Jadi begini ya perjalanan setiap ke gunung?” Tanyaku sambil tertawa.

“Ini belum apa-apa. Kita masih akan naik ke atas lagi Rin.” Sanggupkah kau?”

Aku mendongak keatas. Mataku menyipit melihat silau dan tingginya bebatuan di depan mata yang bagian atasnya ditutupi oleh awan.

“Tak tahu Rei” Aku mengangkat bahu. Aku meluruskan kaki yang berat dan pegal ke depan. Ku taruh ransel disamping. 

“Eh.. kamu istirahat?”

“He eh Rei. Kakiku sudah tak kuat untuk berjalan. Kita rehat sebentar ya.”

“Sekarang baru setengah hari. Kalau kita lanjutkan jalan lagi maka kita akan sampai nanti sore. Jangan sampai gelap mendahului kita.”

Rei menyeka keringatnya dengan tangannya yang kokoh dan berdebu.

“Bagaimana kalau kau naik ke punggungku, Rin” Tawarnya seraya menyeringai lucu.

“Ok. Aku akan menaikimu” Ujarku langsung berlari ke arahnya sambil tertawa.

Tiba- tiba kamarku diketuk.

“Mba Karin.. ada temannya datang nih” Ujar Mbok Iyem pembantu rumah.

“Ada siapa Mbook?”

“Bilangnya namanya Rei Mba..”

Aku melihat jam dinding sudah pukul setengah 7 pagi. Kesiangan aku rupanya. Hah, barusan hanya mimpi saja. Kupikir sungguh terjadi.

“Ya Mbok. Saya sudah bangun.”

Aku keluar kamar 10 menit kemudian. Pakaianku sudah rapih untuk ke kampus. Di meja makan belum ada ayah namun Reza sudah duduk dengan kopi paginya. Kulihat Rei duduk di teras depan. Aku menghampirinya.

“Rei, ikut sarapan yuk.” Dia menggeleng. 

“Aku sudah sarapan tadi, Rin”

“Ya sudah masuk sini” Dia melangkah masuk. Tiba tiba ayahku berjalan ke ruang makan.

“Eh ada Rei rupanya. Ayo ikut gabung sarapan bareng, Rei..” Ujar Ayah.

Rei mengangguk sopan.

“Terima kasih Om.” Sahutnya sopan.

“Baiklah kau boleh naik ke punggungku

ebelah pohon yang

Kurasa aku mendengar suara gaduh di luar. Ada apa ya? Sepertinya ramai sekali diluar sana. Aku coba turun dari ranjang dan mengenakan piyama luar kemudian keluar kamar menuju tangga dan terlihat ada beberapa teman ayah

Anak-anak ajaib Fakultas Bahasa kelas XC

Di suatu pagi yang cerah, di dalam sebuah kelas Kampus Ibu Tiri, tampak beberapa mahasiswa berkerumun mengelilingi seorang Widy yang tengah memukul-mukul meja di depannya.

Terlihat wajahnya memerah seperti tomat baru di rebus. Ia memelototi siapa saja orang yang baru masuk ke dalam, pasalnya ia sangat menanti kehadiran si Omed alias Slamet, sang wakil ketua kelas, yang sudah membuat kepalanya mendidih, hingga rambutnya menjadi keriting seperti mie goreng yang sudah lama di diskon hingga jadi bengkak-bengkak.

Widy sangat marah kepada Omed, karena telah menghina saudara seperguruannya dengan panggilan Sang Maha Guru, padahal kan ia cuma Sang Mahasiswa Abadi, emang karena ga lulus-lulus. Hadeuh.

Dengan muka memerah seperti menahan b****, Widy menghardik Omed yang baru datang ke kelas ketika Omed sudah datang.

“Omed, luh udah ngomong apa sama sahabat gue? Hah? Lo menghina kalau dia seorang Maha Guru padahal kan suaminya Bu Dahal, eh maksud gue, dia kan cuma Mahasiswa Abadi, kenapa lo hina dan fitnah dia dengan sebutan Sang Mahaguru.” Widi murka.

Dengan wajah pura-pura tak bersalah Omed menjawab dengan gaya Jametnya alias Jawa Metal.

“Heh..Burhan, lo jangan memperkeruh keadaan dengan ngadu yang engga-engga ke Widy ya.”

Si Burhan balas senyum kecut ke Omed, di dalam hati dia ngedumel.

“kenapa gue di bawa-bawa sih..Siaul..” Rutuknya.

“Lu kesambet jin apa Med? Soalannya aja gua engga tau” kata Burhan sambil meninjukan tangannya ke rahang Omed.

“Adaauu…” Teriak Omed.

Tidak lama si Widy menyambar bagai petir kesiangan eh di siang bolong.

“Tau lu Med, Burhan lo salah-salahin..udah jangan ngeles kayak eces, sini lu gua gibeng..”.

Widy berteriak dengan gaya silat betawinya. Ciat..ciat..ciaattt…

Widy melayangkan kepalannya ke arah Omed yang melotot ketakutan.

Wuush…

Dengan kepala teleng Omed menghindari tinjuan si Widy..

Tiba-tiba Sang Kyai Syafei datang dan marah melihat pertikaian mahasiswa sastra Indonesia tercinta ini dan sambil membawa tumpukan kain lap yang menumpuk di tangannya.

Fei memberikan perintah kepada para mahasiswa agar mencuci kain lap di tangannya itu, sontak dengan gaya bidadari mandi di pinggir sungai, para mahasiswa yang berkelahi itu langsung mencucikan kain-kain yang kotor nan bau itu, dan konon bau nya mengalahkan bau bulu ketek yang dipelihara Raja Namrud.

Dan sekilas kemudian saat ada kilatan cahaya putih masuk ke kelas, para mahasiswa tersebut seperti langsung tersadar dan sedetik kemudian bergegas lari menuju sang Kyai lantas mengeroyoknya dengan lap-lap yang kotor itu ke wajahnya.

Syafei tertawa terkekeh, emang aneh ini anak.

Sejurus kemudian terdengar suara berat berdehem, ternyata Pak dosen kuliah datang.

Cuuussss…. secepat angin yang keluar dari balon yang menciut, semua mahasiswa balik ke bangkunya masing-masing.

Dan kemudian membangunkan Bisma yang tengah tertidur pulas di samping Vilda, seorang mahasiswi anggun, dan meninggalkan bercak pulau di atas kertas kuliahnya.

Hari kedua.

“Omed, luh udah ngerjain peer IKD belom?”. Tanya Burhan kepada lelaki berlogat jawa tengah itu.

Yang di tanya cuma diem aja. Namun Omed malah ngeluruk sebilah parang dari dalam tas besarnya.

“Wuidih.. mau ngapain lo Med bawa-bawa benda begituan segala, parah lo Med”. Seru Burhan serius.

“Nah..benda ini yang bakalan bantuin gua habis solat Ied nanti.” Kata Omed menimpali pertanyaan cowo Cover Boy di kampus itu. 

Saat itu memang akan dilaksanakan perayaan Hari Raya Idul Adha. Dan Omed jadi kepercayaan Engkong Soleh untuk jadi Aspri alias asisten pribadi waktu penyembelihan qurban nanti.

Burhan lantas seperti memikirkan sesuatu, ia berjalan mengitari Omed yang duduk di bangku kuliahnya.

“Coba gua tebak, Luh bukannya mau berantem kan pake parang eni?”

Omed seraya menyeringai dan sejurus kemudian ia mengeluarkan suaranya dengan keras dan tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya yang melilit, entah karena kegelian apa memang mau ke kamar mandi.

“Hahahahah… Pak Ketua Kelas… anda ini bisa aja menuduh saya ya” Kata Omed dengan aksen jawanya yang tebal.

“Apa luh?” Kata Burhan dengan nada tersinggung.

“Siapa yang nuduh, gua Cuma tanya, nah lu pake ketawa-ketiwi.” Ujar Burhan yang sejurus kemudian mengeluarkan ponsel dari dalam saku jaketnya. Dan berlalu tak mempedulikan Omed lagi.

“gue mau bantuin engkong di komplek rumah buat ngejagal hewan kurban, Burhan. Ngerti kagak lo!” Sahut Omed dengan bahasa jawa tebal tapi di betawiin, kebayang kan kayak apa, dan mengelus golok itu yang masih berada di dalam sarungnya.

“Oh, gue kira lu mau bunuh diri pake gituan, Med.” Ujar Burhan tak acuh masih sambil memainkan ponselnya.

Tiba tiba dateng Si Marisa yang berjalan dengan santai melenggang kangkung masuk ke dalam kelas. Tas ransel hitam miliknya ia sampirkan di belakang punggung lalu duduk di bangku yang berada tak jauh dari dua sahabat yang karib itu tapi sebenernya sama-sama ada keinginan untuk menjitak kepalanya satu sama lain.

“Eh si Marisa udah dateng.” Ujar Omed nyengir kuda.

“Hei, Pagi Med” Jawab Marisa masih santai.

“Wah, Marisa kamu seperti biasanya. Bening, segar kayak buah tomat baru dicuci xixixixii” Ujar Omed menahan geli. Marisa yang dipuji sedemikian rupa hanya tersenyum namun ia sama sekali tak menoleh ke arah Omed.

Burhan yang mendengar gombalan Omed langsung melemparkan kertas yang diremes-remesnya ke arah Omed yang kayak tomat busuk.

“Apa Burh?” Tanya Omed mendelikkan mata.

“Nih…” Sahut Burhan sambil memerlihatkan kepalan tangan tinjunye ke arah Omed.

Pasalnya ia dan Marisa udah dekat lama, tapi ga pernah ia kayak gitu merayu Marisa kayak yang Omed lakuin barusan. Burhan berusaha menjaga sikap kepada Marisa karena ia udah menganggapnya kayak adiknya sendiri.

Gak lama kemudian kelas udah rame oleh mahasiswa-mahasiswa penghuni kelas XC, mereka berebut kursi paling belakang atau yang ada di tengah, asalkan jauh dari penglihatan Dosen, itu udah aman. Sekitar lima belas menit lagi perkuliahan bakal segera dimulai. 

Burhan lagi baca-baca diktat kuliahnya, disampingnya ada Jalal yang lagi bengong ngeliatin papan tulis kosong, Bisma maenin gitarnya disamping Nofa yang lagi nulis-nulis diarynya, isinya curahan hatinya sama Ahjusiinya make jas putih terus megang bunga mawar sambil digandeng jalan di taman. Nofa emang pengen banget ketemu Ahjussinya yang dari korea, tapi kalo ditanya orangnya yang mana dia bakalan nunjukkin fotonya Lee Min Ho. Ckckck

Ada juga Rusdah yang hobi make up, disampingnya Dominic sibuk benerin jilbabnya Rusdah yang miring-miring, persis Designer mau siapin modelnya ke atas Cat Walk.

Hana duduk dibelakang Jalal lagi dengerin lagu di hapenya pake earphone, dari tadi si Elizabeth, putri batak di kelas itu, manggil-mannggil ga digubris sama Hana, si Eliza mau ngasih tau kalo download film Goblin di FD nya udah kelar dia kerjain, tapi dasar si Eliza mager juga dari bangkunya dia kagak mau nyamperin si Hana, karena dia mikir yang butuh siapa yang nyamper siapa.

Marisa masih duduk manis dibangkunya. Widy udah duduk disamping dia, tapi malah ajak debat Omed lagi, kayaknya ngebahas soal pilkada nanti. Bang Ben yang juga guru olahraga di tempat dia magang ngajar cuma melototin mereka aja sambil siap-siap menjaga kalo mereka bakal adu nyali lagi.

Tangan Burhan tiba-tiba disenggol oleh Firza yang baru masuk ke kelas, cewe yang jadi bahan gosip cowo-cowo anak F3 ini.

“Kenapa?” Sahut Burhan menolehkan kepalanya.

“Burhan… lu udah ngerjain tugas Statistik belum?”

Burhan menggeleng.

“Tapi gua udah belajar, lumayanlah buat nambah-nambah wawasan.” Burhan mengoplak.

Firza merengut, tiba-tiba ia jalan ke depan kelas, terus menari-nari sambil memeluk buku statistiknya karena kepusingan mikirin ulangan Statistik yang bakal dilaksanain dalam waktu sepuluh menitan lagi.

“Huuh, gue gimana nih, ngerjain tugas aja belom, apalagi belajar. Nanti ulangan bisa ga ya gue?” Ujar Firza lebih seperti ngomong kepada dirinya sendiri. Burhan sedikit mengangkat bahu. Tapi Firza udah duduk lagi ke bangkunya sekarang.

“Entar gua kasih tau kalo bisa” Ujar Burhan yang kasian ngeliat gebetannya Omed itu stress.

“Bener ya Burhan?” Ujar Firza matanya berbinar-binar menyala terang.

“Iyee” Jawabnya dengan nada koplak.

Sebenernya si Firza itu anaknya cakep, tapi karena kelakuannya yang kadang bikin orang pengen koprol ngeliat tingkah dia dan terlebih dia adalah gebetannya si Omed, maka seisi kelas jadi pada agak jaga jarak sama dia termasuk Burhan sendiri. 

Di samping Firza ada Novi, cewek berkacamata bulat kecil ini suka banget berantem sama Bisma, cowok yang kata si slamet mirip Vidi Aldiano, gua rasa picek matanya tuh anak, masalah sepele apa aja diberantemin. Contohnya kayak siapa nama pemeran Vampire Twilight yg asli pacaran sama si ceweknya di film itu, Bisma bilang Robert Peterson, padahal salah, Si Novi ngebego-begoin dengan semangat.

“Bukan” Ujarnya galak.

Dua puluh menit kemudian mereka udah dikerjain sama dosen Mapel Statistik dengan ulangan yang pertanyaannya aja udah bikin mata merem melek kayak ga di cuci dari subuh kemaren.

“Huuh..” 

Tiba tiba sahut suara bersungut dari arah pojok kanan belakang. Ternyata si Jalal yang kelimpungan ama kertas ulangannya yang ga bisa ia jawab.

“Kenapa Mas? Mau di kumpulin kertas jawabannya?” Ujar Sang dosen dengan tampang mengerikan. Jalal nyengir kuda sambil tangannya di taruh di samping kepalanya tanda hormat.

“Eh, enggak pak, ini pensil saya jatoh ke bawah. Saya susah untuk ambilnya Pak.” Kata Jalal sambil membungkuk.

Anak-anak langsung pada nahan ketawa ngeliat tingkah Jalal. Dia emang terkenal kocak kalo untuk pelajaran Statistik ini.

Pas ulangan harian dari dosen, dia pernah pake kalkulator mati punya si Hana. Dan Hana ga tau kalau kalkulatornya itu di ambil Jalal dari atas mejanya, karena Jalal ngeliat Hana ga make kalkulator itu, akhirnya dia ambil tuh kalkulator yang mati karena abis batreinya.

Saking takutnya sama dosen karena semua mahasiswa wajib pake kalkulator. Dia dengan gaya watados (wajah tanpa dosa) pura-pura ngitung soal statistiknya, dan saat dosen berjalan deketin bangkunya, taraa..kertas latihan punya Jalal masih polos putih sebening salju alias ga ada tulisan sama sekali yang dia jawab. Ya iyalah orang dia pake kalkulator mati, wkwkwkwk.

Dosen itu dengan tampang sadisnya menyuruh Jalal untuk menjawab soal ke depan sambil membawa kalkulator mati. Si Empunya kalkulator mati, Hana, yang juga lagi bete karena dia baru beli itu kalkulator, tapi udah langsung mati batrenya, ngeliatin si Jalal jalan ke depan tapi belom sadar kalau Jalal bawa barang rongsokannya.

“Ayo coba hitung di papan tulis” Perintah Dosen itu.

Jalal garuk-garuk kepalanya. Udah gak tau cara penyelesaiannya ia juga ga bisa nyari hasil yang koma komaan itu kalo ga pake kalkulator. 

“Sempurna banget idup lo, Lal… Ujar Burhan dalam hati.

“Ayo di hitung dengan kalkulatornya, Mas” Ujar Dosen lagi. Satu menit, dua menit berlalu. Hingga akhirnya sampai menit kesepuluh.

“Hehehe.. Mati Pak” Kata Jalal sambil menunjuk ke kalkulator itu.

“Apanya yang mati?” Tanya dosen itu kaget udah kayak pengen murka rasanya.

“Bapaknya, eh… maksud saya Kalkulatornya Pak yang mati.”

Sang dosen melotot, sontak seluruh kelas langsung gaduh kelimpungan, mereka ketawa terbahak-bahak. Ada yang pegangin perutnya nahan geli. Ada juga yang joget koprol karena ngeliat tingkahnya si Jalal. Beraninya Jalal bilang ke dosennya untuk mati. Bocah…

“Hahahaha….hahahhaha.” Terdengar tawa gledek super kenceng dari mahasiswi aneh yang ternyata baru sadar kalau kalkulator itu adalah miliknya yang mati trus dibawa kedepan sama si Jalal.

“Hahhaha…… hahahhaha…..” Tawa Hana belom diam.

“Huus… Hana, istighfar lu! Ketawa gede banget congor lu! Ujar Novi yang duduk di samping Hana.

Hana ga bisa berentiin ketawanya. Anehnya dia baru sadar kalo dari tadi tuh berarti si Jalal pura-pura ngitung biar ga di omelin dosen. Dan nasibnya lebih parah lagi dengan disuruh jawab soal kedepan. Kalo dia tau Jalal bawa kalkulator mati bakalan Hana suruh bawa kalkulator yang udah rusak membusuk.

“Kenapa sih lo Han, ketawa lo bau naga tau!” Ujar Burhan ikut ngedumel.

Hana cuek aja.

Hana ga tau mesti ngomong apa ke Jalal, yang pasti dia cuma bisa ketawa ngeliat kelakuan si Jalal. 

“Aduh, aduh..” Ujar Hana yang jatoh duduk ngeglesor dari kursinya ke lantai saking gelinya ketawa. Buset dah.

Sontak temen-temennya cuma ngeliatin dia aja dan bukannya nolongin, mereka malah geleng-geleng kepala karena bingung sama kelakuannya yang khilaf begitu.

Kembali ke Masa Ulangan Statistik.

Jalal menyumpah dalam hati, sumpah dia ga bakalan ngulang ini mapel di semester depan. Dia harus cari jawaban ulangan Statistik ini segera. Lantas dia sibuk mencari-cari seseorang yang bisa ia minta jawabannya. Matanya ke kanan ke kiri, ke depan ke belakang, tapi lagi lagi dosen penunggu memergokinya. Hadeuh nasib.

Belom lagi si Dominique penyanyi goyang dombret di kelas, njir goyangannya itu bikin kembang kempes idungnya si Bisma, anak-anak laen ngeliatnya aja capek karena dia naek2 ke atas meja Dosen, saking gelinya ngeliat tingkah jerawatnya Hana yang mau keluar eh malah masuk lagi demi ngeliat si makhluk2 aneh teman kelasnya dan juga Jalal yang mati kutu ama ulangan statistiknya. Fiuuuh.

**

“Burhan… tolong maju ke depan…” 

Burhan yang lagi serius ngeliat debat kusir si Hana dengan Widi langsung menyahut tiba tiba begitu mendengar namanya dipanggil oleh dosen. Kali ini dia bukannya akan disuruh ambil sesuatu di kantor kampus, diliat dari ekspresi wajah dosen, dia kayak bakal kena semprot. Kenapa gua bilang begitu, karena barusan Marisa cerita kalo dia lagi sebel banget ama sikap dosen ini, karena sangat amat terlihat kalo doi pilih kasih ama mahasiswinya yang 180° derajat bedanya sikap dia ke para mahasiswa di kampus. 

Jadi sekali2 dia mau ngerjain si Burhan, mahasiswa paling adem diliat dan pasti yang paling dimanja ama dosen ini. Marisa menyengaja nulis judul sebuah jurnal kelompoknya, dimana Burhan ada didalamnya, dengan keliru. Seharusnya dia nulis Inisiatif tapi Marisa tulis inisiatip, kemudian dosen itu tanya ke dia siapa penanggung jawab ini, otomatis dijawabnya “Burhan bu…”

Ckckck.., hahaha, jadilah Doi dipanggil sekarang.

“Ya bu…” Sahutnya.

“Burhan, kamu harus tahu Bahasa Indonesia itu bukan sekedar bisa bicara, namun juga dalam menulis kamu mesti seksama teliti dan benar sesuai PUEBI (Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia), kalo yang dulu disebut EYD.

Haah… Burhan melongo dalam hati. Perasaan dia ga pernah inget udah nulis judul jurnalnya apalagi pake salah p ke f. Amsyong… sungut Burhan dalam hati.

“Ya bu…” Burhan pasrah aja sambil ngejawab meski bete.

si Marisa ngakak sendirian dengan pura2 ngobrol sama si lia di bangku belakang. Padahal dia lagi merayakan kemenangannya dengan mengerjai dosen ganjen tersebut, seenggaknya itu yang Marisa nilai.

Lembayung tak meratapi malam

Ini kisah hidupku, tidak ada yang di tutup-tutupi atau juga dimanipulasi. Jangan terkejut ataupun jadi benci karenanya, nikmati saja sebagai sebuah pelajaran hidup kedepan.
Ini sebuah kisah yang aku belum mengerti maksud dan tujuan akhirnya. Kusyukuri hidup ini karena merupakan suatu anugerah. 

Sang Maha Kuasa mesti lebih tahu apa yang terbaik untuk kita. Ia pasti memiliki maksud dan tujuan alasan kita ini diciptakan. Aku terus berharap hal demikian di setiap doa, saat airmata tak dapat di bendung terus, saat sakit dirasa menyapa relung kalbu.
Saat menyadari betapa banyaknya dosa yang diperbuat, akibat ketumpulan akal dan ketidaktahuan, ataupun kurang inisiatifnya aku berbuat. 

Anak-anak dan bunda adalah salah satu penyemangat hidupku. Jika mereka menangis, aku lebih menangis lagi, seolah kepedihan itu menempel di alam bawah sadar ini. Dan parahnya aku tak dapat berbuat banyak untuk membela orang-orang yang kusayang itu.
Ingin rasanya aku berlari menuju suatu lingkungan yang tak dapat melihat diriku seolah dalam kesalahan. Dalam lumbung dosa yang terus kuperbuat seolah tak berkesudahan. 

Aku yang selalu disudutkan atas kekeliruan-kekeliruan yang orang lain lakukan. Aku yang dijadikan penyebab atas perbuatan mereka sendiri. Sejatinya manusia memang sering menyalahkan orang di luar dirinya atas penyebab kegagalan yang dialaminya.
**
Sayang..kamu sedang apa?” Tanya sesosok pria berwajah pucat berteriak dari ruang tamu, aku yang tengah berbenah di dapur bergegas menyahutinya.

“Iyaa..Bi.. ” Jawabku dengan tergesa. 

Tahukah sahabat, pikiranku saat ini sedang mengkhawatirkan kondisi suamiku yang sakit parah. Ia mengalami kebocoran di jantung dan berat badannya turun drastis, dari yang berkisar di angka delapan puluh kini hanya di angka enam puluh lima kilogram saja. Badannya kurus dan mengecil hanya dalam waktu kurang dari tiga bulan semenjak di rawat di rumah sakit.

Wajahku muncul di ruang tamu di tempat ia merebahkan badannya, ia mengangguk seolah memanggil. 

“Ada apa Bi?” Tanyaku begitu mendekatinya. 

“Aku ingin di temani” Katanya lagi.

Suamiku memang sejak di vonis mengalami kebocoran jantung, tubuhnya tak lagi kuat. Jalan saja harus pelan dan tidak boleh kelelahan. Otomatis aku harus terus berada di sampingnya untuk selalu menemani dan membantu keperluannya.

Aku segera membuatkan teh manis dan duduk disampingnya di atas sofa ruang tamu. Kami menonton TV. Jauh di dalam relung jiwa ini pikiranku masih berkecamuk memikirkan upaya memulihkan kondisinya, karena keadaanya makin parah akhir-akhir ini. Aku sering menangis dalam sendiri, di dalam kamar mandi, ketika sedang mencuci piring, kapan pun ketika tidak ada orang. 

Sahabat, namun begitu tak pernah aku tampakkan wajah kesedihan di depannya. Meskipun seringnya ia menangkap basah ketika kedua mata ini berlinangan. Dalam setiap waktu aku terus menerus berdoa agar ia di pulihkan dan tidak perlu terjadi hal-hal yang tidak kami inginkan.

Kesepian sangat sering menemani kami di rumah ini. Anak kami dititipkan sementara di rumah neneknya. Karena dalam masa pengobatan baunya Dafa sering tidak terurus. Maka jalan satu-satunya adalah menitipkan Dafa disana, karena untuk kedepannya abinya akan dibawa berobat oleh saudara sepupunya Uda Farel.

Kemudian malang tak dapat di tolak. Saat dua minggu pertama ia dirawat, ayahku harus dilarikan ke rumah sakit. Iritasi lambung yang dialaminya memungkinkan beliau harus menjalani Operasi Usus Buntu. 

Sahabat, aku yang keteteran karena Dafa tidak ada yang menjaga dirumah. Untungnya aku memiliki dua adik perempuan yang baik dan pengertian. Mereka berdua bergantian menjaga keponakannya itu ketika ibuku mengurus keperluan ayah di rumah sakit. 

Adikku yang paling bungsu, masih sekolah SMA, yang paling sering menjaga Dafa. Ketika tidak ada orang di rumah dan ia mesti berangkat ke sekolah, Dafa ikut dibawa ke sekolahnya. Banyak yang memuji ketelatenan adikku itu kepada Dafa, karena ketika semestinya dia pergi dengan teman-temannya, ia justru menjaga anakku. 

Kami patut memberikan ucapan terima kasih tak terhingga kepada dua adikku. Bahwa kesulitan yang tengah kami alami ini, saudari-saudariku itu datang membantu, dan terlebih untuk adikku yang paling bungsu.
Dua minggu kemudian.
Kereta api meluncur cepat di hadapanku, meskipun raga mengikhlaskan kepergiannya, namun jiwa ini tak rela sebenarnya melepasnya karena ia hanya berdua dalam perjalanan itu dengan saudaranya, dan kami harus terpisah juga karena ia pergi ke sana sendirian tanpa diriku.
Sakit jantung yang di alaminya itu dokter mengatakan merupakan penyakit bawaannya dari kecil, namun anehnya baru terdiagnosa dan terasa sekarang. Ibu mertuaku sampai terheran-heran hal itu bisa terjadi, karena dari kecil ia tak pernah mengalami kejadian seperti ini
Tak pernah ia mengalami kelemahan fisik atau mental yang di akibatkan dari jantungnya yang bocor, sahabat. 

Ia hanya pernah di rawat akibat DBD. Dilakukan juga pemeriksaan menyeluruh dengan medical check up dari darahnya hingga seluruh tubuhnya namun tidak ada indikasi penyakit lain.

Rahasia Ilahi memang tak pernah ada yang mengetahui, esok hari akan terjadi hal diluar nalar dan prediksi dan kita hanya bisa memohon yang terbaik dalam hidup, selebihnya hanya Allah SWT saja yang mengatur jalannya episode kehidupan.

Aku pulang dari Stasiun Kereta dengan air mata yang deras namun untungnya tertutupi oleh masker wajah penghalang debu yang kukenakan. Berbarengan seiring dengan padatnya jalanan ibukota, alunan tangisku teredam oleh suara bising mesin mobil bus yang kunaiki. Aku mencoba pasrah dan juga berprasangka baik kepada Sang Khaliq.

Begitu sampai di rumah Dafa sudah menunggu bersama adik-adikku. Mereka mengantarkannya ke rumah. Pelukan erat Dafa sangat terasa dalam lagu kerinduan yang coba ia salurkan. Selama tiga bulan kemarin kami tak pernah bertemu secara intensif, hanya beberapa jam saja ketika aku membelikannya susu dan makanan favoritnya ketika menjenguknya dirumah.

Sahabat, hidup itu ada banyak pilihan yang harus kita jalani, meskipun terkadang rasanya perih, namun dengan hal itu mudah-mudahan dapat membuat kita kuat untuk menjalani sisa skenario kehidupan. Meski rasanya tangis yang tinggal berbicara.
Dua malam kemudian.
Seketika aku terbangun dari mimpi yang tak begitu enak barusan. Kupandangi jam dinding di kamar, waktu ternyata sudah masuk tengah malam. Ayahku sudah pulih, kini beliau sudah dirumah. Aku sementara tinggal disini sampai abinya Dafa pulang.

Kuraih ponsel dari atas meja dan melihat ada panggilan masuk yang terlewat. Ternyata dari suamiku. Setelah solat ‘Isya tadi aku langsung jatuh tertidur sampai sebuah mimpi aneh membangunkan. Aku coba menghubunginya kembali. Lima detik kemudian telepon terangkat dan terdengar suara berat dari ujung sana.
“Assalamu’alaikum, Umi” Ujar suamiku terbata.

“Wa’alaikumussalaam wr wb Abi…” Jawabku dengan suara lirih.

“Bi.. “Bisikku lewat ponsel, khawatir membangunkan Dafa yang tertidur. 

“Ya, Sayang… ” Jawabnya dengan suara yang lemah.

Air mata tak dapat lagi ditahan, seketika aku tersengguk menangis lirih. Kemudian dia ikutan menangis. Membayangkan kebahagiaan bisa kami dapatkan ketika ia sudah bisa keluar dari rumah sakit, namun tak lama perpisahan itu terjadi lagi hingga membuat sebuah jarak lagi  di antara kami. Dan sedih belum mau pergi.

Sahabat, aku sudah sangat merindukan kehadirannya. Dan membayangkan ketika ia tertidur di pangkuan. Terkadang ia hanya menahan sakit yang dirasakannya. Dan biasanya kuusap-usap dadanya sambil membacakan surat Al-insyiroh, surat yang dapat melapangkan dada, agar tak begitu berat ia rasakan.

“Kenapa belum tidur..? “Tanyaku penasaran.

Malam ini adalah malam kedua suamiku menginap di sana.

“Aku hanya ingin dahulu mendengar suaramu sebelum tertidur”. Jawabnya.

Aku menahan napas.
“Semoga kau cepat sembuh sayang…” Kataku lagi sambil mengelap air mata dengan ujung jari. 

“Dafa..dimana..?” Tanyanya Masih dengan suara yang lemah. 

“Ini..disini.. Di sampingku Bi, dia sudah tidur. Tadi sore dia terus memanggil-manggil kamu”

“Oh ya? Lalu kamu bilang apa Mi?”

“Aku bilang bahwa abimu sedang ada urusan pekerjaan.”
“Hmm…” Ia menghela napas.
“Maafkan aku Bi, aku hanya tidak ingin melihat ia menangis bila tahu bahwa  dirimu ternyata sakit.” Kataku dengan air mata yang meleleh.
Aku tak sanggup lagi menghadapi ujian ini, aku tersengguk-sengguk memikirkan kelanjutan takdir kami.
“Tidak apa-apa, aku pun tak rela bila ia harus menangisiku sayang.” Jawabnya.
“Ciumkan ia untukku Mi.. Aku kangen sekali dengan dia.. ” Ia berujar lagi.
Aku melirik Dafa. Lantas aku berikan ciuman lembut dan dalam di pipinya. Aku merintih pelan dan membenamkan wajah dalam dekapan tangan. Pundakku naik turun berguncang karena menahan tangis yang mendalam.
“Kapan kau balik Bi? “Tanyaku setelah meredakan tangisan
“Hari ahad ini, insyaa Allaah.. Begitu pengobatannya selesai untukku, Mi.” katanya. 
“Hmm… Apa tempat berobatnya jauh dari rumah?”
“Ya… agak sedikit jauh, harus menggunakan sepeda motor kurang lebih dua jam, karena mobil tidak dapat masuk kesana.”
“Ayahku bilang temannya ada yang seorang Sensei Muslim.” Aku menghela napas. “Nanti ia akan menganganimu ketika kau disini, sayang. Seperti ia mengobati ayah.”Ujarku.
“Ya.. Baiklah” Jawabnya.
“Kita tinggal di rumah ayah sementara nanti ya Bi..” Ujarku.
“Bagaimana kabar ayah? Apakah beliau sudah baikan sekarang?”
“Alhamdulilah sudah bisa beraktivitas lagi, meski tak bisa seperti dulu.” Napasku terhalang bekas tangisan.
“Jahitan bekas operasi usus buntunya sudah mengering. Sekarang  masih beraktivitas dari rumah saja.” Aku berdehem akibat serak.
“Kita tinggal di rumah ayahku saja nanti ya?”Tanyaku lagi.
“Apa tidak merepotkan nantinya, Mi? Sepertinya ibuku ingin kita tinggal di rumahnya”. Jawabnya.
Aku mengangguk pelan. 
“Baiklah, sebenarnya aku ingin kita tinggal di sini,  karena Dafa lebih dekat dengan ibuku, sementara aku harus merawatmu.” Aku terisak lagi.
“Aku tidak ingin terpisah dari Dafa ” Ujarku merintih menangis.
“Tapi ingat kondisi ayahmu sekarang sudah tidak seperti dulu, dan ibumu pasti akan sangat kerepotan bila kita nanti tinggal di sana”
Aku memohon.
“Baiklah, yang terpenting kalian berdua tidak berada jauh dariku.. Ya.. ” Ujarnya akhirnya memaklumi.
“Ya.. sayang…” Sahutku senang dan akhirnya mengelap air mata.
Seminggu berlalu.
Sahabat, sekarang kami sedang menunggu kepulangan suamiku. Kali ini ia di temani ibu dan saudara-saudaranya yang pulang menggunakan pesawat. Sesuai prediksiku, kondisi kesehatannya bukannya membaik namun justru makin melemah.
Ayah sudah jauh lebih sehat sekarang, bahkan beliau ikut menjemput ke bandara meski tak dapat menyetir seperti sebelumnya. Fadli suamiku langsung di bawa pulang ke rumah kami sendiri dan langsung di istirahatkan di kamar tidurnya. 
Esoknya.
Sensei ayahku itu datang ke rumah dan memeriksa keadaan Fadli. Di luar kamar dia mengatakan bahwa kondisinya saat ini sangat mengkhawatirkan. Beban hidup yang ia jalani tak semestinya ia pikul sekarang. Sebisa mungkin segala aktivitas tak boleh ia lalui dengan kelelahan. Runtuh benteng pertahananku. Aku menangis meraung-raung dalam pelukan ayah.
Aku tak sanggup lagi untuk berjalan ke kamar melihat keadaannya. Ketika itu aku sudah melihatnya sedang menatap kosong ke arahku dari dalam kamar. Guratan kepedihan terpancar dari ronanya yang pucat. Aku terperanjat dalam do’a dan terus menerus membaca zikir penenang hati yang dibisa. Sedikit demi sedikit kulangkahkan kaki kekamar, kemudian memeluknya erat dan tak mau melepasnya.
***
“Sayang.. Aku ingin pergi ke masjid solat jum’at, selama di sana dan di rumah sakit aku belum pernah lagi ke masjid.” Kata suamiku di siang itu.
“Tapi, apakah Abi kuat jalan ke masjid? ” Tanyaku dengan hati-hati.
“Umi bonceng aku di motor ya Mi..? “Katanya dengan memamerkan giginya yang berbaris rapi itu. 
“Hah? ” ujarku kaget dan akhirnya ikut menyengir kuda. Aku melepas tawa ringan.
“Baiklah.. “Jawabku.
“Alhamdulillaah… ” Ujarnya riang.
Dua puluh menit berlalu.
Azan baru saja berkumandang indah di pengeras suara masjid yang berjarak lima puluh meter dari rumah. Suamiku sudah bersiap dengan memakai baju kokohnya yang kini tampak kebesaran, ia menjadi sangat kecil sekarang.
Suamiku sudah berdiri sambil bersandar di tembok samping rumah, karena keadaannya dari hari ke hari terus melemah bahkan untuk berdiri saja ia tak kuat lama-lama, ia hanya mengamatiku mengeluarkan motor dari garasi.
Kunyalakan  mesin motor dan memanaskannya sebentar lalu mengangguk ke arahnya ntuk menyatakan siap.Ia berjalan pelan dan mencoba duduk di belakang.  Untuk pertama, pertahananku sempat goyah menahan beban dirinya, karena ternyata meskipun ia terlihat kurus, namun tenagaku tak cukup kuat menahan bebannya.
“Kuat tidak Mi? “Tanyanya begitu melihatku goyah
“Iya..kuat..Insya.Allah.. Ayo Bi.. “Jawabku dengan nada meyakinkan dirinya.
Ku jalankan motor dengan perlahan hingga akhirnya sampai di masjid. Aku langsung masuk ke dalam pelataran parkiran masjid. Nampak semua mata memandangi kami, aku tak menghiraukan. Ia tersenyum sambil  membelai kepalaku kemudian menyuruh pulang sambil mengucapkan cinta dalam bisikkannya. 
“I love you…” Ujarnya.
Kupandangi wajah dan matanya, ada pendaran sinar aneh tak biasa dari matanya. Saat itu tak dapat aku ketahui dengan pasti. Pertanda apakah gerangan. Kemudian hal itu begitu saja terlewatkan hingga akhirnya aku tak bertanya lagi.
Siang berlalu berganti sore. 
Saat itu ketika di ruang TV.
“Umi.. Aku ingin ajak kamu ke Artha…” Ujarnya mengajakku ke salah satu Mall yang terkenal di Jakarta. 
“Hheemm.. Naik taksi Bi?” Tanyaku sambil memastikan.
Ia masih memandangi TV, dan ia hanya mengangguk tanpa menoleh. Kulihat ia sedikit ragu ragu. Tapi akhirnya ia merespon.
“Iya.. Mi.. “Jawabnya
“Umi pesan taksi saja.. “Ujarnya lagi.
 Aku langsung memencet nomor pemesanan taksi.
“Ya sudah, cepatlah kita bersiap-siap Bi..” Kataku begitu menutup gagang telepon. 
“Sudah dapatkah taksinya?”
“Ya.. 10 menit katanya akan sampai”
Dia berdiri dan melangkah ke kamar dengan berhati hati. Ia bersiap-siap mengenakan kemejanya yang tadi sudah ia pakai untuk Sholat Jumat. Tak setegap seperti dulu, dan tak berstamina seperti saat kukenal. Aku memalingkan kepala, langsung kuhapus air mata yang tiba-tiba jatuh. Aku tak peduli bagaimana kelanjutan nasibku. Sekarang aku hanya ingin menjalaninya dengan maksimal.
Dua puluh menit kemudian.
Kami sampai di sebuah restoran Pizza di Mall Artha Gading Jakarta.
Ia yang meminta akan makan di restoran pizza. Aku mengiyakan. Kemudian ia melirikku sambil mengeluarkan senyum yang di tahan. Aku menoleh kepadanya. Aku memasang wajah kebingungan. Dengan sedikit heran aku menaikkan alis sebelah.
“Kenapa Bi?” Tanyaku heran.
Dia menahan tawa.
“Gak biasanya kamu kalau di ajak makan langsung iya begitu saja, biasanya pilih-pilih dulu, jangan kesini Bi, jangan ke situ Bi, ih disana mahal.. dan lain-lain.” Ia menggerutu.
“Fiuuh… coba kalau dari dulu nurut” Ujarnya lagi lalu melengos ke luar jendela kaca mobil.
Aku pura-pura terperanjat.
“Ahhaha.. gak usah sentimental begitu dong Bi… kan itu karena biar kita bisa lebih hemat”. Kataku membela diri.
“Oh.. begitu ya sayang?”. Ujarnya sambil mengelus kepalaku.
Sekarang gantian aku yang menahan tawa. Dafa duduk di tengah dengan tenang sambil memainkan mobil-mobilannya.
**
Malam itu ketika kami baru selesai pulang makan sore dari sana tiba-tiba ia mengalami kejang dan suhu tubuhnya naik drastis tanpa diduga. Aku langsung panik dan segera menelpon saudaraku untuk melarikan dia ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, suamiku langsung di bawa ke ruang ICU dan mendapat penanganan intensif lengkap dengan alat monitor detak jantung di sampingnya dan oksigen di pasangkan ke mulutnya. Satu jam kemudian ia di beri suntikan cairan entah apa nama obat itu, yang diingat olehku setelah itu ia lalu dalam keadaan koma.
Ia tak pernah sadarkan diri lagi untuk seminggu berikutnya. Aku terus menemani disampingnya. Kemudian ia tak pernah sadarkan diri lagi hingga detak jantungnya berhenti untuk selamanya. 
***
Jam demi jam berlalu, sahabat, saudara, dan kerabat sudah banyak yang berdatangan untuk memastikan keadaan kami. Aku terduduk lunglai di samping tubuhnya yang sudah terbujur kaku. 
Tak bisa lagi ku keluarkan air mata. Aku hanyaa memikirkan anak kami satu-satunya yang baru berusia dua tahun, tapi sudah ditinggal abinya  untuk selamanya. Usia pernikahan kami hanya berusia tiga tahun.
Masih seperti kemarin rasanya kami duduk di pelaminan dan melakukan proses perkenalan, karena sebelumnya kami tidak berpacaran, hanya melalui proses perjodohan yang di bantu oleh struktur organisasi kami.
Ibu mertuaku tengah berada di luar kota saat itu, dan belum mengetahui keadaan yang  terjadi. Karena ada urusan keluarga yang mendesak beliau pergi ke kampung, padahal beliau sendiri tidak mau pergi kemana-mana, namun akhirnya pergi juga dengan niat tak akan lama perginya. Namun pula akhirnya beliau tak pernah sempat lagi bertemu anak kesayangannya itu, untuk selamanya. Aku masih duduk terpekur, tak bisa lagi ku berpikir apa-apa.
Aku menatap ke arah jasad di depanku yang terbujur kaku tak bergerak. Napasku sedikit sesak, tak percaya dengan apa yang terjadi saat ini, di hadapan para pelayat wajah suamiku menorehkan senyumnya yang mengembang dalam kekakuan tubuh. Lantunan ayat suci terus diperdengarkan oleh jamaah yang hadir malam ini. Badanku sudah tak berdaya menahan keletihan dan kepedihan. 
Orang tua beserta saudara yang lain berada di ruangan tempat ia terbaring, dan aku sudah berada di kamar sendiri. Mereka terus menerus zikir dan membaca talqin mayat tanpa putus untuk mendoakan keselamatan sahabat dan adik yang mereka sayangi.
Tepat kumandang azan subuh tadi ia pergi tuk selamanya, menghilang untuk sementara dari muka bumi hingga akhirnya nanti dapat berkumpul lagi di Jannah tempat Allaah Azza wa Jalla janjikan kelak, aamiin Allah..

Ujung jilbabku bergoyang goyang dimainkan angin. Aku menatap ke kejauhan di ujung garis biru laut yang dibatasi oleh langit putih tertutup awan cerah. Aku menghela napas panjang ketika masalah yang tengah terjadi mengusik ketenangan suasana syahdu ini. Aku dinikahi sebagai orang kedua dalam pernikahan, dan saat itu aku hanya menerima saja tawaran ini. Aku ditawari oleh si istri untuk bersedia dinikahi olehnya untuk suaminya. Niat apa yang terselubung dalam perkara tersebut sebenarnya. Apa motif terbesarnya hingga ia begitu merelakan pernikahan ini terjadi.

Aku sendiri, saat itu hanya menganggap gampang urusan pernikahan dua istri ini. Yang diingat aku hanya menjalankan takdir apa yang sedang kuterima tanpa memikirkan dampaknya didepan. Aku baru saja ditinggal oleh sang suami akibat meninggal dunia. Baru tiga bulan setelah aku melepaskan masa Iddah aku ditawari oleh seorang wanita yang sama sekali asing.

Saat itu ketika baru pulang mengajar dari sebuah apartemen untuk bimbingan pelajaran privat bahasa Indonesia untuk anak ekspatriat pengusaha asli India, aku menyengaja mampir ke sebuah toko busana muslimah di komplek perumahan warga di sekitar rumah mertuaku. Aku berniat bekerja sama dengan toko itu untuk menjadi salah satu agen penjualnya. Meski belum mengenal pemiliknya, namun yang pernah kudengar bahwa pemilik toko itu merupakan pengusaha yang loyal terhadap pelanggannya.

Maka aku akan berbelanja pakaian disitu dan mencoba menjalin kerjasama dengannya. Ketika sampai di depan toko tersebut aku langsung memarkirkan motor di dekat pintu masuk. Ku sampaikan salam dan terlihat ada beberapa calon pembeli yang sedang memilah baju yang akan dibelinya. Terlihat seorang wanita paruh baya mengenakan jilbab besar berwarna biru muda sedang berbicara dengan orang orang dIsitu. Diketahui kemudian dia adalah pemilik toko ini. Sebut saja namanya bu Ratih. Aku bersalaman dengannya sambil memperkenalkan diri.

“Kenalkan saya Jihan bu. Dulu pernah tinggal di daerah sini. Saya ingin lihat koleksi ibu”. Ujarku saat itu kepadanya. 

“Oh ya, kalau ibu kenal saya adalah istri almarhum Rinal bu”. Kataku menambahkan.

Suamiku adalah orang yang cukup dikenal disini. Kupikir bila memberitahukan soal ini maka perkenalan kami tidak begitu sulit untuk dilanjutkan lebih lanjut.

Terlihat ia cukup antusias dengan kedatanganku. Ia menyodorkan tangannya untuk bersalaman dan kemudian mengamatiku sebagai orang yang baru dikenalnya.

“Ya.. saya Bu Ratih.” Katanya membalas sapaanku. Kami berdua saling senyum. Terlihat ia menatapku dengan tatapan menerawang seolah sedang mengingat ingat sesuatu. Untuk menghilangkan kekakuan ini aku melanjutkan percakapan dengan hal yang telah diniatkan.

“Saya bermaksud untuk menjual lagi baju ibu, bagaimana mekanismenya ya?” Kataku.

“Oh Mba ingin menjadi reseller saya?” Tanyanya.

“Ya Bu…”

“Baik, ini kartu nama saya. Silakan hubungi jika mba telah siap.” Ia menyodorkan kartu yang telah tertera nama seorang pengusaha yang kupikir itu adalah nama suaminya.

Setelah dari sana aku balik kerumah dan menemui anakku. Ia salah satu rumah makan untuk ku ajak

Empat tahun kemudian.
Tak terasa anakku kini sudah menginjak tahun ke enam usianya. Dia telah mengukir tawa dan bahagia selama ini untukku.
Ia mewarisi semua kenangan milik Abinya. Tawanya, bahasa tubuhnya, bahkan sifat dasarnya ada menempel pada dirinya
Seperti sifat suka memberi, menraktir temannya, hohoho, dan juga sifat pemalunya terhadap wanita.
Ketika kerinduan melanda kepadanya, biasanya kami menghabiskan waktu berdua saja, seperti jalan-jalan sore di wilayah rumah atau makan diluar untuk menghilangkan kesepian. Kami berharap bahwa duka ini hanyalah potongan puzzle kehidupan yang sudah khatam kami jalani. 
Meski di usia yang sangat dini anak kami telah mendapat arti kehilangan, namun kami berharap bahwa ia akan tumbuh menjadi lelaki yang tangguh dan penyayang terhadap sesama dan juga menjadi pemimpin keadilan yang harus ia tegakkan. 
Aku tersenyum memandangi wajahnya dan seraya berkata dalam hati, bahwa cintamu adalah cintaku pada anak kita, suamiku..
Dua tahun kemudian.
Tas koper yang dibawa keluar dari airport cukup menyusahkan langkah kakiku menuju ke mobil jemputan. Tiba-tiba ponsel bunyi berdering. 
“Halo..” Ujarku. 
“Ya..Halo Nak..”. Sahut suara dari seberang sana. Ibuku menelpon rupanya.
 “Kamu dimana?” Tanya Ibu.
“Iya..ini sudah turun dari pesawat, baru mau cari Pak Anto Bu”. Jawabku sambil memeriksa area bandara dan melanglang buana mencari sopir jemputan dari rumah.
 “Pak Anto sudah berangkat dari satu jam yang lalu Nak, nanti Ibu akan suruh dia telpon kamu ya..” Ujar Ibuku. 
“Oh.. tidak perlu Bu, biar aku saja yang telpon beliau, ok?” sahutku lagi.
 “Baiklah…hati-hati di jalan ya Nak, Dafa sudah tak sabar untuk bertemu kamu”.
 “Ya..Bu,,” Ujarku dengan tersenyum. 
Aku baru saja pulang dari Amerika untuk membantu kementrian luar negeri di kedutaan yang aku bantu perwakilannya disana dalam konsolidasi kerjasama bilateral antar Indonesia-Amerika. 
Selama sebulan kami melakukan safari kerjasama dengan menemani sekretaris kementerian dan tepat di hari ini ketika rombongan selesai bertugas, aku langsung memohon izin memisahkan diri dari rombongan dan pulang dengan pesawat pertama.
Dafa anakku yang di besarkan tanpa seorang Ayah ternyata sudah tak sabar untuk bertemu denganku. Aku pun sangat antusias dan rindu kepadanya. Aku melihat bangku kosong panjang di ruang tunggu airport yang sangat luas itu dan kupikir mungkin dapat membantu mengusir letih akibat menarik koper besar yang berat dan perjalanan pesawat yang panjang. Aku sedikit mengalami jetleg. 
Sengaja tak kugunakan troli hanya agar aku dapat cepat sampai ke mobil, namun sudah setengah jam aku duduk disini tak selintas pun wajah sopir keluargaku itu muncul.
Aku luruskan kedua kaki barang sejenak dan menaruh tas tangan disamping dan koper di hadapan, ketika ponselku berdering dan mengeluarkan sebuah suara yang sepertinya kukenal dan sudah lama tak terdengar dalam beberapa minggu ini, dan aku mengucapkan salam duluan.
“Halo.. ?”. Ujarku.
“Halo..Ms. Rayya. How are you?” Sahut suara yang berat itu. Aku mengusap pipi yang sedikit memanas akibat gugup.
“Yes? Could i know with whom i’m speaking now?” Kataku menutup sedikit kegugupan sambil terkekeh.
“I’m Bryan Mohammed, Ma’am! Remember? And if you would make it sure, you can turn around and you could see me in the white shirt!” Katanya lagi dengan antusias.
Aku tertawa lepas. Ku arahkan pandangan memutar ke belakang dan ternyata ada sesosok lelaki yang kukenal, dia adalah calon suamiku yang baru saja pulang dari afrika untuk tugas kantor Pabrik Kelapa Sawit, sebuah perusahaan swasta di Indonesia, yang membuka cabang baru di sana.
Ia melangkah ke arahku dan masih dengan wajah yang terpukau aku berdiri tegak memandanginya yang semakin jelas kini sudah berada di depan.
Dari tangan di belakangnya ia mengeluarkan rangkaian bunga kepadaku. Aku terkejut gembira. 
“Hai.. apa kabar kamu?” Tanyanya dengan tersenyum. 
Aku mengulum senyum yang terbaik. 
“Fine.. I’m very very well, thank you..” Jawabku riang.
Ia ikutan tertawa dan kemudian ia pun menaruh lututnya di hadapanku. Aku terkesiap. Orang-orang langsung memandangi kami. Dengan wajah memerah aku memberi kode kepadanya agar ia cepat berdiri dari bawah. 
“I’m sorry i was letting you of waiting for me in a very very long time.”Ujarnya dengan suara yang di tekan.
“Well.. never mind darl, i just got some new experiences in another way, hahaha”. Sahutku basa-basi. Entah apa perasaanku sekarang, tapi yang jelas hanya kegembiraan yang kurasa saat ini.
Dia mengeluarkan sebuah kotak merah kecil dari saku celana jeansnya dan membukanya di depanku dan masih dalam posisi berlutut ia menyodorkannya ke arahku.
“Apa ini?”. Tanyaku semangat. 
Terlihat sebuah cincin putih bertahtakan berlian merah, kilaunya yang sangat indah membuat siapapun yang melihatnya akan terpesona. Jantungku berdegup cepat, aku pakaikan cincin di jari manisku di tangan kiri, dan kemudian aku mengira-ngira saja kejutan berikutnya.
“Rayya… will you marry me?”. Tanyanya dengan tersenyum tulus.
Belum habis kekagetanku melihat indahnya cincin itu, kini aku seolah ingin seketika berteriak  “Ya…” kepadanya.
“Bryan… what did you just say? Tanyaku menutupi kegugupan untuk yang kesekian kalinya.
“Will you accept me, as your soulmate, and could you spend your lifetime loving me ?”. Tanyanya dengan nada sangat yakin.
Sepertinya aku ingin langsung berteriak. Namun tersadar dengan keadaan sekitar yang ternyata sudah banyak berderet orang-orang mengelilingi kami dan mereka menepukkan tangan bergemuruh, seolah mendukung apa yang baru saja Bryan pinta dariku. 
Aku tersipu, ku gigit ujung kuku sebelah kanan dan menatap ke dalam matanya yang indah.
Kuraih ponsel yang mengeluarkan bunyi “bip” dan ternyata ibuku yang mengirimkan kabar bahwa ini semua telah di rencanakan oleh Bryan untuk memberi surprise dan sengaja tidak memberitahuku.
“Ah… Ibu…” Desahku berlinangkan air mata haru.
Ku sapu air mata tanda bahagia ini, Bryan menunjukkan wajah penuh keyakinan, dan  seketika ku jawab “Yes” saja untuk pertanyaannya barusan. 
Sontak dia bangkit dari posisinya dan orang orang langsung mengeluarkan suara-suara sorak dengan gembira dan suitan yang panjang-panjang. Seketika aksinya memang jadi tontonan, dan tak terasa wajahku menjadi panas dan dengan diiringi airmata yang menetes, aku membelai wajahnya yang sumringah yang menatap kepadaku dengan keyakinan yang dalam yang terpendar keluar dari matanya.
Kini kebahagiaan itu seolah menghapus segala muram durja yang pernah menghampiriku. Pesta pernikahan yang tidak terlalu mewah namun khusyu’ dan syahdu di gelar di sebuah taman indah di pinggiran kota yang hawanya pun sangat sejuk di rasa. 
Sebuah ikatan suci mengikat kami dan dengan niatan membahagiakan keluarga kecilku, Bryan menjadi sosok idola baru di dalam keluargaku.
Kami semua tertawa bahagia dan kuharap dari alam yang berbeda, ia pun tersenyum lega dan ikut berbahagia di tempatnya di sana.
*Special untuk Cintaku yang Takkan Berkesudahan.
Jakarta, 05 Januari 2017.

My Endless Love

Bab I

Di dalam sebuah kelas perkuliahan, pagi itu matahari memancarkan sinarnya dengan anggun dan ramah yang menyorot langsung ke dalam jendela kelas, di dalamnya terdapat beberapa mahasiswa yang sudah datang dan menunggu kehadiran dosennya. 

Seketika jantungku berdegup penuh semangat ketika membayangkan wajah yang akan datang di kelas pagi ini. Dan dari kejauhan kulihat bayangan sosok lelaki kurus dan berjaket berjalan kearah kelas tengah mengembangkan senyumnya yang ternyata ditujukan kepadaku. Hatiku berteriak gembira,  tak dapat ditahan untuk tidak merespon, kupikir wajahku memerah, aku membalas senyumnya. Dia berjalan menghampiri dan mengambil kursi di sampingku. 

“Pagi..” Sapanya. Aku meliriknya dan membalas salamnya. 

“Pagi juga..” Kataku nyengir.

 “Kamu sudah sarapan belum?” Tanyaku. Dia mengarahkan matanya keluar lewat jendela. 

“Belum..” Sahutnya seperti sambil memikirkan sesuatu. 

“Apa kamu mau ke kantin?” Tanyaku lagi. 

“Baiklah… kamu belum makan ya?” Tanyanya. 

Aku bangkit berdiri sambil menjawab dengan kepala menggeleng. 

“Belum..” Gumamku. 

Dia berdiri dan mengambil posisi berjalan di depanku. Kami pergi ke kantin dan memesan makanan cepat saji dan menaruhnya di atas meja yang tidak jauh dari arah pintu keluar.

 “Dari rumah kamu jam berapa Honey?” Tanyaku. Dia menyuapkan sandwichnya sendiri. 

“Jam setengah enam tadi, kamu sendiri? Rumahmu sangat jauh kan?” Tanyanya dengan sedikit lemas. 

“Yeah, tadi selepas subuh aku langsung berangkat.” Jawabku. 

“Kasihan…” Ujarnya dengan membelai rambutku ke belakang. 

Aku mengulum senyum. “Well..tidak apa-apa sayang”. 

Lima menit kemudian bel kelas berbunyi, kami sudah selesai dengan sarapannya dan kemudian ponselnya berdering. Sambil tersenyum padaku ia mengangkat telpon itu. Aku melihatnya bicara serius sekali, namun seketika kami langsung beranjak dari kantin menuju kelas dan ia menggandeng tanganku sambil tangan satunya memegang ponsel yang masih di tempelkan ke telinganya. 

“Siapa?” Tanyaku begitu ia selesai bicara. 

“Bukan siapa-siapa kok” Katanya seraya menoleh padaku dengan senyum khasnya. Aku sedikit merengut. 

“Bukan siapa-siapa tapi sepertinya serius sekali..” Kataku sambil mendahuluinya ke depan. Ia mencoba meraih tanganku. 

“Hey.. apa kau marah?” Tanyanya.

 “Hm..” Jawabku sekenanya. 

“Lusi.. “ Karina sahabatku memanggil dari depan kelas. 

Aku beranjak meninggalkannya dan berlari ke arah Karina, namun dari ujung koridor gedung kampus kulihat seorang wanita berbaju biru muda berjalan dengan sambil membawa tas junjung berbahan kain yang di dalamnya berisikan buku-buku yang kutahu itu adalah modul mengajar untuk kelas kami.

 Aku memberi kode kepada Karina sambil menunjuk ke arah datangnya dosen kami, ia melihat ke arah telunjukku dan sekonyong lari kecil ke dalam kelas. Aku tertawa melihatnya dan berbalik badan menghadap Raymond sambil berlari beranjak meninggalkannya. 

“Aku duluan…” Kataku. Ia tiba-tiba ikut berlari dan mengejarku dengan cepat. Aku tertawa terkekeh kegelian.

“Hi class…” Sapa dosenku dengan ramah. 

“Good Morning..” Ujarnya lagi. 

“Morning..Ma’am..” Kata kami bersahut-sahutan.

 Raymond meraih jempolku dan memeganginya kuat. Aku yang ingin meraih tempat pensil dalam tas tiba-tiba terhenti dan tak dapat menggerakkan tangan. Aku tertawa kecil. Ia senyum-senyum namun sambil terus menyimak kuliah dosen di depan. Aku cubit pergelangan tangannya dengan tangan yang satu lagi dan ia meringis kesakitan dan akhirnya melepaskan tanganku yang ia pegangi. 

Ternyata teman kami yang lain Steve memperhatikan dari belakang dan ia menyinyir sambil bersiul meledek. 

“Mesra amat… “ Ujar Steve dengan manyun. Aku tersenyum saja dan Raymond meletakkan tangannya di atas kepalanya.

Satu Jam Setengah Kemudian, dosen kami keluar meninggalkan kelas yang usai. Sementara mahasiswa sibuk mengeluarkan diktat kuliah pelajaran berikutnya. Aku mengamati seisi kelas yang ramai riuh oleh obrolan ala mahasiswa. 

Raymond mendorong tubuh Steve ke tembok sambil memasangkan jaket ke tubuhnya yang kecil ringkih, becanda ala anak sekolah dasar masih pula mereka kerjakan, tiba-tiba suara ketukan di pintu membuyarkan posisi kami, yang lain kemudian langsung balik ke bangku masing-masing. Kelas pun dimulai kembali.

Terik matahari di atas kepala membuat kami tidak ingin berada lama-lama di tengah lapangan hijau kampus. Raymond dan aku memilih pergi ke sebuah koridor sepi yang teduh untuk menghabiskan waktu istirahat kuliah kami hari itu. Kami duduk di selasar koridor, dia sibuk memainkan ponsel.

 Aku tengah menghapalkan dialog ujian drama grup yang akan dilaksanakan di akhir semester sekitar tiga bulan lagi. Dengan berbaring di atas pahanya, aku mengamati dagunya yang  simetris yang di tumbuhi oleh janggut tipis yang hampir menutupi semua area.

 “Kamu sedang hapalkan dialog, atau cukup hanya dengan mengamati aku?” Tanya pria yang baru saja menikahiku seminggu yang lalu itu. Aku membelai dagunya yang tajam akibat jenggotnya yang tipis.

 “Tidak, aku hanya sedang menghapal wajahmu ini.” Kataku sedikit menggodanya. 

Kami adalah pasangan yang menikah muda, tidak ada yang menghalangi kami untuk mengabadikan cinta di atas pelaminan lebih awal di usia yang terbilang cukup dini ini. Motivasi kami adalah mempertahankan cinta yang kami rajut sejak jaman SMA. 

Kami begitu menyayangi satu sama lain, dan hal itu di restui oleh ayahnya yang menawarkan begitu saja kepada kami sebuah acara sakral yang khidmat yaitu resepsi pernikahan, meski di awal mamaku merasa ragu dan tidak setuju akan keputusan kami menikah muda, namun dengan sikap Raymond yang dapat meyakinkan mama dan juga dukungan ayah Raymond,

Acara di minggu lalu itu dapat membuat keluarga kami merasakan indahnya sebuah pernikahan khususnya untuk kami berdua, meski ayah Raymond adalah seorang pengusaha yang terbilang sukses, perusahaannya ada dimana-mana dibidang penyediaan perangkat komputer, namun hal itu tak membuatnya membuatnya tinggi hati, malah ia bersedia membuat acara yang terlalu prestisius bagiku dan keluarga untuk sebuah acara pernikahan. Hal ini membuat kami begitu menyadari arti pentingnya berkorban untuk orang yang kita sayangi. 

Aku bersyukur kepada Tuhan yang maha Esa, dengan sikap ayah Raymond yang begitu inisiatif atas hubungan anaknya, beliau memang tidak ingin anaknya berlama-lama dalam pacaran, dan  aku lagi lagi bersyukur bisa bertemu dengan separuh nafasku itu hingga membuat diriku menghargai kehidupan ini. 

Kemarin aku mengunjungi rumah mama dan bermalam disana untuk pertama kalinya setelah acara resepsi itu. Aku sengaja tak ditemani Raymond dan tak minta di jemput karena memang tengah rindu dengan rutinitas naik bus kota sendiri, yang sudah lama ku jalani sebagai mahasiswa dan pelajar, dan Raymond menyetujui saja keputusanku itu, asal tidak sering sering, ia berujar.

Sore harinya di apartemen kami.

Aku baru saja menggantung handuk, ketika Raymond masuk ke kamar mandi dan kemudian memintaku menyiapkan makan malam untuk tamu yang akan datang kemari. Aku sedikit terkejut, pasalnya baru kali ini aku akan memasak banyak di apartemennya, meski dari dulu sering membantu mamaku memasak namun di minta tiba tiba seperti ini aku sedikit tidak percaya diri.

“Kamu mau aku masak apa?” Tanyaku menutupi kebingungan. 

Dia mengetuk-ngetuk jarinya di gagang pintu kamar mandi, dia bahkan belum beranjak dari situ dan kemudian mengeluarkan ponsel pintarnya untuk mencari resep masakan yang akan aku masak.

“Tenang saja Baby, aku akan membantumu memasak.” Ujarnya tersenyum seraya melangkah pergi ke luar seperti bisa membaca pikiranku.

 Aku menutup pintu dan ikut tersenyum tapi masih kebingungan dan penasaran siapa seseorang yang akan datang nanti malam.

“Siapa sih yang mau datang, Honey?” Tanyaku begitu keluar dari kamar mandi. 

“Kakak sepupuku dari Kanada, Sayang.” Jawabnya sambil berbaring nonton TV di atas kasur. Setahuku dia memang punya kakak laki laki, tapi tidak tahu kalau ada yang tinggal di Kanada. Ponselku mengeluarkan pesan, ternyata dari mama bertanya apakah kami sudah makan malam, aku melihat ke arah suamiku kemudian langsung membalas pesan.

“Aku berniat masak malam ini Ma, kakak sepupu Ray akan datang dan kami akan memasak barbeque mungkin”.Kataku berujar dan tiba-tiba memiliki ide untuk makan malamnya. 

“Oh.. baiklah sayang, sampaikan salam mama untuk Ray” Kata mama.

 “Okay Ma” Kataku di dalam kotak pesan.

“Sayang, ayo kita ke swalayan untuk membeli daging beef, bagaimana?” Tanyaku antusias dan meraih jaket dari dalam lemari. 

Dia memutar kepalanya ke arahku. 

“Untuk Barbeque?” Tanyanya. 

“Tentu saja, sayang” Jawabku

Judulnya merindu

Dari judul di atas terkesannya saya lagi mellow begitu..
memang iya sih, saya sedang rindu berat, sama siapa yah? Sama bulan Ramadan yang sebentar lagi datang ke tengah-tengah kita. Gak sabar rasanya menanti datangnya ia. Malam-malamnya penuh dengan keberkahan dan kemuliaan. Siang harinya di penuhi orang-orang yang bersama memerjuangkan menahan hawa nafsunya hingga matahari sampai di ufuk barat.